Pencarian Tiga ABK WNI Musaffah 2 di Selat Hormuz Masih Berlanjut, Kata Dubes RI

Pencarian tiga Anak Buah Kapal (ABK) Warga Negara Indonesia (WNI) yang hilang dari kapal tug Musaffah 2 di Selat Hormuz terus dilakukan. Otoritas dari Oman dan Persatuan Emirat Arab (PEA) masih berupaya menemukan para awak yang belum ditemukan. Duta Besar Republik Indonesia untuk PEA, Judha Nugraha, menyampaikan informasi ini dalam keterangan resmi yang dirilis pada hari Sabtu, 28 Maret.
Proses Pencarian yang Berlangsung
Dubes Judha menegaskan bahwa Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Abu Dhabi berkolaborasi dengan KBRI Muscat untuk mengatasi insiden ledakan yang menimpa kapal Musaffah 2. Sampai saat ini, ketiga ABK WNI yang hilang, yang dikenal dengan inisial M, S, dan A, belum berhasil ditemukan.
“Kami masih dalam proses pencarian. Hingga saat ini, otoritas Oman dan PEA belum memberikan informasi resmi mengenai perkembangan pencarian para ABK yang hilang,” ungkap Judha Nugraha.
Kondisi Seorang WNI yang Selamat
Sementara itu, seorang ABK yang selamat, yang menjabat sebagai kapten kapal, bernama Rano Djama, telah menjalani operasi untuk mengatasi luka bakar yang dideritanya dan kini sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit.
KBRI Abu Dhabi juga telah menerbitkan paspor baru untuk Rano, mengingat paspor lamanya tenggelam bersama kapal Musaffah 2 saat insiden terjadi.
Fasilitasi dan Kompensasi
“KBRI telah berupaya untuk menerbitkan paspor baru dan juga membantu dalam proses kompensasi dari pihak perusahaan tempat Rano bekerja. Ia berencana kembali ke Indonesia untuk menghabiskan masa cutinya setelah kondisinya pulih,” tambah Dubes Judha.
Selain itu, untuk hak-hak gaji dari para korban, KBRI Abu Dhabi terus berkomunikasi dengan perusahaan terkait untuk memastikan hak-hak tersebut terpenuhi.
Rincian Insiden Kapal Musaffah 2
Insiden yang melibatkan kapal tug Musaffah 2, yang berbendera PEA, terjadi pada pagi dini hari tanggal 6 Maret di Selat Hormuz, di perairan yang terletak antara PEA dan Oman. Kabar mengenai kecelakaan ini diterima oleh KBRI Abu Dhabi dan KBRI Muscat pada hari yang sama.
Setelah menerima laporan, perwakilan RI segera melakukan koordinasi dengan otoritas PEA, Oman, serta pihak perusahaan Safeen Prestige yang mengoperasikan kapal tersebut. Menurut informasi yang terkumpul, kapal Musaffah 2 mengangkut tujuh awak kapal yang berasal dari berbagai negara, termasuk Indonesia, India, dan Filipina.
Status ABK dan Penyelidikan Lanjutan
Dari tujuh awak yang berada di kapal, empat di antaranya berhasil selamat, sedangkan tiga lainnya masih dalam proses pencarian. Untuk kondisi empat ABK yang selamat, satu di antaranya, WNI, sedang mendapat perawatan di rumah sakit di Kota Khasab, Oman akibat luka bakar.
Berdasarkan keterangan dari saksi mata, diketahui bahwa kapal Musaffah 2 mengalami ledakan yang mengakibatkan kebakaran dan tenggelam. Saat ini, otoritas di PEA dan Oman masih melakukan penyelidikan untuk menentukan penyebab pasti dari insiden yang tragis ini.
Peran KBRI dalam Situasi Darurat
KBRI Abu Dhabi berperan aktif dalam mendukung para keluarga ABK yang terlibat dalam insiden ini. Proses komunikasi yang terjalin antara KBRI dan pihak-pihak terkait bertujuan untuk memberikan informasi yang akurat dan terkini kepada keluarga korban.
- Penerbitan paspor baru bagi ABK yang selamat.
- Fasilitasi hak-hak kompensasi dari perusahaan.
- Koordinasi dengan otoritas lokal untuk pencarian ABK yang hilang.
- Pemberian dukungan psikologis bagi keluarga ABK.
- Update rutin mengenai perkembangan pencarian dan penyelidikan.
Komitmen Pemerintah
Pemerintah Indonesia melalui KBRI berkomitmen untuk melakukan segala yang mungkin dalam menghadapi situasi ini. Penanganan insiden diharapkan dapat meminimalisir dampak bagi keluarga yang ditinggalkan serta memberikan kejelasan tentang keberadaan para ABK yang hilang.
Dalam menghadapi insiden seperti ini, penting bagi semua pihak untuk tetap bersinergi dan berkoordinasi agar proses pencarian dapat berjalan dengan efektif. Dukungan dari masyarakat juga sangat dibutuhkan untuk memberikan semangat kepada keluarga para ABK yang tengah menanti kabar baik.
Penanganan Pasca Insiden
Setelah insiden, KBRI juga melakukan evaluasi terkait keselamatan kerja dan prosedur operasional di kapal-kapal yang beroperasi di wilayah tersebut. Hal ini penting untuk mencegah terulangnya kejadian serupa di masa mendatang.
Melalui kerja sama dengan otoritas setempat, diharapkan ditemukan solusi yang tepat untuk memastikan keselamatan para ABK yang bekerja di sektor maritim. Aspek keselamatan dan kesehatan kerja harus menjadi prioritas utama bagi semua pihak yang terlibat dalam industri ini.
Langkah-Langkah Ke Depan
Ke depan, perlu adanya langkah-langkah konkret untuk meningkatkan keselamatan di lautan, termasuk:
- Peningkatan pelatihan keselamatan bagi awak kapal.
- Penerapan standar operasional yang lebih ketat.
- Pengawasan yang lebih intensif terhadap kondisi kapal.
- Peningkatan komunikasi antara perusahaan dan KBRI.
- Penguatan kerja sama internasional dalam penanganan insiden maritim.
Dengan langkah-langkah tersebut, diharapkan dapat menciptakan lingkungan kerja yang lebih aman bagi para ABK, serta memberikan jaminan bahwa insiden yang merugikan tidak akan terulang kembali di masa depan.
➡️ Baca Juga: Kepadatan Kendaraan dari Barat di Gerbang Kalikangkung Semarang Meningkat Signifikan
➡️ Baca Juga: Aldila Akhiri Harapan Pasangan Tuan Rumah Melaju ke Babak Kedua Miami Open, Janice Terus Berjuang




