Polisi Tingkatkan Pengawasan Instalasi Gas untuk Cegah Risiko Lahan Gambut

Di tengah meningkatnya perhatian terhadap keselamatan instalasi gas, aparat kepolisian telah memperkuat pengawasan di sekitar fasilitas gas onshore receiving facility (ORF) PT Eni Muara Bakau yang terletak di Kelurahan Handil Baru, Kecamatan Samboja, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Tindakan ini diambil setelah terjadi kebakaran lahan gambut seluas tiga hektare, yang mengkhawatirkan potensi risiko bagi instalasi gas tersebut.
Pentingnya Pengawasan Instalasi Gas
Kepala Kepolisian Sektor Samboja, Ajun Komisaris Polisi Mohamad Yazid, menegaskan bahwa pemantauan yang lebih intensif tetap dilaksanakan di lokasi untuk mencegah munculnya kembali titik api. Struktur lahan gambut yang menyimpan potensi bara di bawah permukaan tanah menjadi perhatian utama, terutama dalam konteks keselamatan operasional instalasi gas.
Instalasi gas yang dikelola oleh perusahaan migas asal Italia ini merupakan objek vital nasional yang berfungsi sebagai jalur utama pasokan energi. Oleh karena itu, pengawasan yang ketat menjadi sangat penting untuk memastikan keamanan dan kelancaran operasional.
Fungsi ORF Handil Baru
Fasilitas ORF Handil Baru memiliki peranan krusial dalam mengolah dan mengalirkan gas alam dari Lapangan Jangkrik, sebuah area gas laut dalam yang terletak di Selat Makassar. Gas yang diolah di sini selanjutnya disalurkan ke Kilang LNG Badak di Bontang dan jaringan pembangkit listrik regional.
Keberadaan instalasi ini tidak hanya penting bagi perusahaan, tetapi juga bagi ketahanan energi nasional. Dengan meningkatnya kebutuhan energi, keberlangsungan operasional ORF sangat diperlukan.
Menanggapi Ancaman Kebakaran
Pada hari Minggu, 20 September, kebakaran yang melanda semak belukar di lahan gambut RT 012, yang terletak di dekat ORF, menjadi alarm bagi semua pihak terkait. Mengingat sensitivitas area ini terhadap material mudah terbakar, kebakaran tersebut segera dikategorikan sebagai ancaman serius yang dapat mengganggu keamanan instalasi gas PT Eni Muara Bakau.
Deteksi titik api pertama kali terjadi sekitar pukul 13.30 WITA, dan lokasi kebakaran terletak sekitar 20 kilometer dari Markas Polsek Samboja di Jalan Balikpapan-Handil. Dengan cepat, pihak kepolisian mengerahkan personel untuk memimpin proses penanganan kebakaran bersama dengan Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kecamatan Samboja.
Kerjasama Tim Penanggulangan Kebakaran
Proses pemadaman darurat melibatkan berbagai pihak, termasuk tim penanggulangan kebakaran dari PT Pertamina Hulu Mahakam, PT Eni Muara Bakau, Palang Merah Indonesia (PMI) Samboja, dan Kelompok Masyarakat Peduli Api (MPA) dari Kelurahan Tanjung Harapan. Kerjasama ini menunjukkan pentingnya sinergi antara berbagai lembaga dalam menangani situasi darurat.
Petugas di lapangan menghadapi tantangan berat karena struktur vegetasi gambut yang tebal dan kering. Untuk mengatasi situasi ini, belasan kendaraan operasional dikerahkan, termasuk armada pemadam utama dan mobil tangki suplai air dari perusahaan.
Proses Pemadaman dan Penanganan Lanjutan
Setelah nearly tujuh jam melakukan pemblokadean untuk mencegah rambatan api ke instalasi vital, tim gabungan akhirnya berhasil mengendalikan dan memadamkan kobaran api utama sekitar pukul 20.00 WITA. Meskipun api di permukaan telah padam, upaya untuk memastikan tidak ada sisa bara di kedalaman tanah gambut terus dilanjutkan dengan penyiraman dan pembasahan menyeluruh.
Dugaan sementara mengenai penyebab kebakaran mengindikasikan bahwa api muncul kembali akibat sisa bara dari kebakaran sebelumnya yang tersulut oleh hembusan angin dan cuaca yang panas. Hal ini menekankan pentingnya pengawasan berkelanjutan di area berisiko tinggi, terutama yang berdekatan dengan instalasi gas.
Strategi Pengawasan yang Diperlukan
Pengawasan instalasi gas tidak hanya sebatas pada respon ketika terjadi kebakaran, tetapi juga memerlukan strategi proaktif untuk mencegah kejadian yang tidak diinginkan. Beberapa langkah penting yang perlu dipertimbangkan meliputi:
- Peningkatan patroli di area sekitar instalasi gas.
- Pemasangan sistem deteksi dini untuk kebakaran.
- Penyuluhan kepada masyarakat tentang bahaya kebakaran lahan gambut.
- Peningkatan koordinasi antara pihak keamanan dan perusahaan terkait.
- Pengembangan rencana kontinjensi untuk situasi darurat.
Dengan langkah-langkah ini, diharapkan risiko yang dihadapi oleh instalasi gas dapat diminimalisir, sehingga berkontribusi pada keselamatan publik dan ketahanan energi nasional. Pengawasan yang ketat dan kolaborasi antara berbagai pihak merupakan kunci untuk memastikan bahwa insiden serupa tidak terulang di masa depan.
➡️ Baca Juga: Kondisi Memprihatinkan Bangunan di SDN Pesisir Terekam dalam Video
➡️ Baca Juga: Persija Tetap Waspada Terhadap Kebangkitan PSIM Meski Jadwal Padat dan Pindah Venue



