uby.ac.id

uby.ac.id

uby.ac.id

uby.ac.id

uby.ac.id

uby.ac.id

uby.ac.id

uby.ac.id

uby.ac.id

uby.ac.id

uby.ac.id

uby.ac.id

uby.ac.id

uby.ac.id

uby.ac.id

uby.ac.id

uby.ac.id

uby.ac.id

uby.ac.id

uby.ac.id

uby.ac.id

uby.ac.id

uby.ac.id

uby.ac.id

uby.ac.id

uby.ac.id

uby.ac.id

uby.ac.id

uby.ac.id

uby.ac.id

uby.ac.id

uby.ac.id

uby.ac.id

uby.ac.id

uby.ac.id

uby.ac.id

uby.ac.id

uby.ac.id

uby.ac.id

uby.ac.id

uby.ac.id

uby.ac.id

uby.ac.id

uby.ac.id

uby.ac.id

uby.ac.id

uby.ac.id

uby.ac.id

uby.ac.id

uby.ac.id

uby.ac.id

uby.ac.id

uby.ac.id

uby.ac.id

uby.ac.id

uby.ac.id

uby.ac.id

uby.ac.id

uby.ac.id

Kpkgg
desa pesisiritbLamselPemkab Lamselunesco

Lampung Selatan Bersama ITB Siapkan Desa Pesisir untuk Standar Tsunami Ready UNESCO

Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan (Pemkab Lamsel) berkolaborasi dengan Institut Teknologi Bandung (ITB) untuk mempersiapkan desa-desa pesisir agar memenuhi kriteria komunitas siap tsunami yang diakui oleh UNESCO. Di tengah potensi ancaman bencana yang mengintai, kesiapsiagaan menghadapi tsunami tidak hanya memerlukan sistem peringatan dini, tetapi juga pemahaman masyarakat mengenai langkah-langkah penyelamatan yang harus dilakukan saat bencana terjadi. Inisiatif ini bertujuan untuk membangun kesadaran dan kemampuan masyarakat dalam menghadapi ancaman tersebut.

Rapat Koordinasi dan Pendampingan

Persiapan untuk program ini dibahas dalam rapat koordinasi yang berlangsung di Ruang Crisis Center Pusdalops BPBD Kabupaten Lampung Selatan pada Senin, 19 Oktober 2026. Rapat ini melibatkan tim ahli dari Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB) ITB. Pendampingan ini direncanakan berlangsung selama tiga bulan, dengan fokus pada pemenuhan 12 indikator utama yang diperlukan untuk mencapai status Tsunami Ready.

Program ini tidak hanya bertujuan untuk meraih pengakuan internasional, tetapi juga untuk memperkuat sistem kesiapsiagaan bencana di tingkat desa. Dengan demikian, masyarakat pesisir dapat merasakan langsung manfaat dari upaya yang dilakukan. Kegiatan ini dihadiri oleh berbagai pihak, termasuk Asisten Bidang Ekonomi dan Pembangunan Setdakab Lampung Selatan, Tri Umaryani, Kepala Pelaksana BPBD Lampung Selatan, Maturidi, serta perwakilan dari Paluma Nusantara dan Mitra Bentala, dan desa-desa yang tergabung dalam program Desa Tangguh Bencana (Destana).

Pentingnya Budaya Sadar Bencana

Tri Umaryani dalam arahannya menggarisbawahi betapa pentingnya membangun budaya sadar bencana di kalangan masyarakat pesisir. Ia menekankan bahwa keindahan alam Lampung Selatan harus diimbangi dengan kesadaran akan potensi ancaman bencana serta kemampuan masyarakat untuk meresponsnya dengan tepat. “Lampung Selatan ini sangat indah, tetapi di sisi lain kita memiliki potensi bencana yang harus diwaspadai, mengingat pengalaman di masa lalu,” ujarnya.

Apresiasi juga disampaikan oleh Tri kepada tim ahli FITB ITB serta semua mitra yang terlibat dalam meningkatkan kesiapsiagaan bencana di daerah tersebut. Kerjasama ini diharapkan dapat memperkuat upaya untuk melindungi masyarakat dari dampak bencana yang mungkin terjadi.

Standar Tsunami Ready Community

Ketua Tim FITB ITB, Wiwin Windupranata, menjelaskan bahwa pendampingan ini merupakan tindak lanjut dari audiensi yang telah dilakukan sebelumnya dengan Bupati Lampung Selatan. Program ini didasarkan pada standar Tsunami Ready Community yang dikembangkan oleh UNESCO, yang bertujuan untuk mendorong kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi ancaman tsunami.

Selama tiga bulan pendampingan, tim akan membantu desa-desa sasaran dalam mengumpulkan dan melengkapi bukti pemenuhan 12 indikator utama. Proses ini mencakup penyiapan dokumen dan penguatan sistem kesiapsiagaan yang dapat diterapkan di lapangan. “Pengalaman kami mendampingi sejumlah desa di Jawa Barat menjadi bekal untuk membantu Lampung Selatan memperkuat kesiapsiagaan menghadapi ancaman tsunami,” tambah Wiwin.

Pemenuhan Indikator Kesiapsiagaan

Wiwin menekankan bahwa pemenuhan indikator tidak hanya berhenti pada kelengkapan administrasi. Sistem yang dibangun harus benar-benar dipahami dan dijalankan oleh masyarakat agar dapat berfungsi secara efektif saat keadaan darurat terjadi. “Ini bukan sekadar melengkapi dokumen administrasi semata, tetapi benar-benar sistem yang kita jalankan dan rasakan manfaatnya di tengah masyarakat,” tegasnya.

Sejalan dengan pendampingan tersebut, BPBD Lampung Selatan menargetkan seluruh proses pemenuhan 12 indikator dapat diselesaikan sebelum akhir Desember 2026. Maturidi, Kepala Pelaksana BPBD Lampung Selatan, mengakui bahwa belum semua indikator terpenuhi secara optimal. Namun, pihaknya optimis bahwa seluruh proses persiapan dapat diselesaikan sesuai jadwal yang telah ditetapkan.

Kolaborasi Lintas Sektor

Maturidi menjelaskan bahwa untuk mencapai target tersebut, kolaborasi lintas sektor sangat penting. Hal ini mencakup upaya memperkuat sarana dan prasarana serta meningkatkan kapasitas sumber daya manusia di tingkat desa. Dukungan dari Paluma Nusantara, Mitra Bentala, serta para pemangku kepentingan lainnya diharapkan dapat membantu mengatasi keterbatasan yang masih dihadapi di lapangan.

Ia juga berharap desa-desa yang telah lebih dahulu menjalankan upaya kesiapsiagaan dapat menjadi contoh bagi wilayah lain dalam mengembangkan sistem serupa. Dengan dukungan ITB dan kolaborasi antar sektor, Pemkab Lampung Selatan berkomitmen untuk memperkuat kesiapsiagaan desa pesisir. Ini mencakup langkah-langkah mulai dari mengenali potensi bahaya hingga melaksanakan evakuasi yang efektif.

Meningkatkan Kesiapsiagaan Masyarakat

Dengan upaya yang dilakukan, diharapkan masyarakat pesisir Lampung Selatan akan lebih siap menghadapi ancaman tsunami. Program ini tidak hanya fokus pada aspek teknis dan administratif, tetapi juga pada peningkatan kesadaran dan kapasitas masyarakat. Melalui pendidikan dan pelatihan yang terarah, masyarakat diharapkan dapat memahami dan melaksanakan prosedur evakuasi serta sistem peringatan dini dengan baik.

Selain itu, penting bagi masyarakat untuk memiliki akses informasi yang cepat dan akurat mengenai potensi ancaman tsunami. Dengan demikian, setiap individu dapat berkontribusi dalam menjaga keselamatan diri dan orang-orang di sekitarnya. Membangun budaya sadar bencana dan kesiapsiagaan di tingkat komunitas adalah langkah krusial dalam mengurangi risiko dan dampak bencana.

Kesimpulan

Inisiatif Pemkab Lampung Selatan bersama ITB dalam mempersiapkan desa pesisir menuju status Tsunami Ready Community yang diakui oleh UNESCO merupakan langkah penting dalam meningkatkan kesiapsiagaan bencana. Melalui kolaborasi yang solid, pendampingan yang berkelanjutan, dan peningkatan kesadaran masyarakat, diharapkan Lampung Selatan dapat menjadi contoh dalam menghadapi ancaman bencana dengan lebih baik. Dengan langkah-langkah ini, masyarakat pesisir tidak hanya siap menghadapi tsunami, tetapi juga lebih resilient dalam menghadapi berbagai tantangan di masa depan.

    ➡️ Baca Juga: Cek Status Penerima BPNT 2026 Secara Online: Panduan Lengkap dan Praktis

    ➡️ Baca Juga: Tingkatkan Belanja di Sektor Pengungkit untuk Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Nasional

    Related Articles

    Back to top button