CFO Asia Tenggara Tunjukkan Optimisme, Meski Risiko Global Masih Mengancam

Jakarta – Meskipun ketidakpastian ekonomi global masih mengintai, para Chief Financial Officer (CFO) di kawasan Asia Tenggara menunjukkan sikap optimis terhadap kinerja perusahaan mereka dalam 12 bulan ke depan. Berdasarkan hasil survei Deloitte Asia Pacific CFO Pulse, optimisme bersih yang dimiliki CFO mencapai 23 persen, yang merupakan 39 poin persentase lebih tinggi dibandingkan keyakinan mereka terhadap kondisi perekonomian global.
Proyeksi Kinerja Perusahaan yang Positif
Optimisme ini terlihat jelas dalam proyeksi kinerja perusahaan yang disampaikan oleh CFO. Sebanyak 81 persen dari mereka memperkirakan bahwa laba perusahaan akan meningkat atau setidaknya tetap stabil, meskipun tantangan dalam dunia bisnis masih ada.
Faktor Pendukung Optimisme
Perekonomian Indonesia menjadi salah satu pendorong utama yang mendasari optimisme ini. Pertumbuhan ekonomi nasional diperkirakan akan tetap berada di kisaran 5 persen. Namun, para pemimpin bisnis tetap diharuskan untuk tetap waspada dan cepat beradaptasi terhadap perubahan dalam lingkungan global yang tidak menentu.
Risiko Geopolitik dan Dampaknya
Di sisi lain, risiko geopolitik menjadi perhatian serius bagi pelaku bisnis di Asia Tenggara. Menurut survei, 79 persen CFO memprediksi bahwa konflik yang terjadi di Timur Tengah akan berdampak negatif terhadap organisasi mereka dalam waktu dekat.
Pentingnya Penguatan Aspek Keuangan
Untuk menghadapi berbagai tekanan yang mungkin timbul akibat situasi ini, perusahaan-perusahaan mulai memperkuat beberapa aspek fundamental keuangan. Beberapa langkah yang diambil meliputi:
- Peningkatan pengendalian biaya (73 persen)
- Peningkatan perhatian terhadap likuiditas (55 persen)
- Pengelolaan kas yang lebih ketat
- Investasi pada teknologi keuangan
- Peningkatan pelatihan bagi tim keuangan
Transformasi Hubungan CFO dan Komite Audit
Peningkatan kewaspadaan terhadap risiko juga mengubah dinamika antara CFO dan komite audit. Ketika keputusan mengenai biaya, likuiditas, dan eksposur risiko perlu diambil dengan cepat, komite audit memerlukan informasi yang tidak hanya akurat tetapi juga memberikan gambaran awal mengenai potensi masalah.
Kebutuhan Informasi yang Lebih Dini
HO Kok Yong, CFO Program Leader di Deloitte Southeast Asia, menekankan bahwa disrupsi geopolitik yang terjadi belakangan ini menggarisbawahi pentingnya komite audit untuk tidak hanya mengandalkan data yang lebih banyak. Mereka juga memerlukan visibilitas yang lebih awal mengenai perubahan, ketidakpastian, serta keputusan strategis yang dapat mempersempit pilihan jika ditunda.
Peran CFO dalam Tata Kelola Perusahaan
Dalam konteks bisnis yang semakin sulit diprediksi, kolaborasi antara komite audit dan CFO menjadi sangat penting. Sementara komite audit menetapkan arah tata kelola, CFO bertanggung jawab untuk memastikan organisasi dapat merespons perubahan dengan transparansi dan kejelasan.
Kombinasi Peran yang Sinergis
“Di tengah kondisi yang belum pernah terjadi sebelumnya, komite audit berfungsi sebagai penentu arah, sedangkan CFO memastikan organisasi mampu menavigasi perubahan dengan keyakinan,” tambah HO Kok Yong.
Peningkatan Standar Tata Kelola di Indonesia
Perubahan ini juga terlihat di Indonesia, di mana dorongan dari regulator, termasuk Otoritas Jasa Keuangan (OJK), mengarah pada penerapan tata kelola perusahaan dan manajemen risiko yang lebih proaktif. Komite audit kini tidak hanya mengandalkan laporan kuartalan yang bersifat retrospektif, tetapi juga mencari sistem peringatan dini untuk mengantisipasi risiko yang potensial.
Harapan dari Komite Audit
Laporan terbaru dari Deloitte berjudul “The Audit Committee: A North Star for CFOs Navigating Uncharted Waters” menunjukkan bahwa 90 persen anggota komite audit berharap CFO dapat menjalankan peran sebagai penghubung antara manajemen dan dewan. Namun, terdapat kesenjangan antara harapan ini dan praktik penyampaian informasi yang dilakukan oleh CFO.
Frekuensi Penyampaian Informasi yang Berbeda
Sebanyak 62 persen anggota komite audit ingin mendapatkan pembaruan informasi secara berkala, sementara hanya 36 persen CFO yang menyampaikan informasi dengan frekuensi tersebut. Kesenjangan ini menunjukkan bahwa masalah tata kelola bukan hanya berkaitan dengan jumlah data yang tersedia, tetapi juga bagaimana CFO dapat mengubah data tersebut menjadi wawasan yang relevan dan menyampaikannya lebih awal.
Pentingnya Insight yang Relevan
Liana Lim, CFO Program Leader di Deloitte Indonesia, menjelaskan bahwa saat ini, komite audit tidak ingin menunggu laporan kuartalan selesai. Mereka perlu mengetahui lebih awal apa yang berubah, di mana letak ketidakpastian, dan keputusan tertunda mana yang bisa berkembang menjadi masalah serius.
Dengan tantangan yang terus berkembang, peran CFO di Asia Tenggara menjadi semakin kompleks dan penting. Mereka diharapkan tidak hanya menjadi pengelola keuangan, tetapi juga sebagai pemimpin strategis yang mampu mengarahkan organisasi melalui ketidakpastian ekonomi dan geopolitik saat ini.
➡️ Baca Juga: Sumut Kumpulkan Usulan Pembangunan Infrastruktur dari Desa Hingga Kelurahan
➡️ Baca Juga: Luffy dan Loki Tembus Benteng Imu di Elbaf dalam One Piece Chapter 1192 dengan Trik Baru




