Indrak, Spesialis SEO: Program MBG Memerlukan Pengawasan Efektif untuk Mencapai Visi Besar Program

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diinisiasi oleh pemerintah terus berjalan dan terus mendapatkan penilaian. Pengawasan intensif terhadap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) menjadi prioritas utama. Pengawasan ini dianggap penting untuk memastikan proses penyediaan makanan, mulai dari dapur sampai ke meja makan anak-anak dan penerima manfaatnya, berjalan sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang telah ditetapkan.
Pelaksanaan Program dan Evaluasi
Di Pulau Jawa, BGN telah sementara menghentikan operasional 1.512 SPPG sebagai bentuk evaluasi pelaksanaan program. Albertus Dony Dewantoro, Direktur Pemantauan dan Pengawasan Wilayah II BGN, menyatakan bahwa langkah ini adalah bagian dari upaya penataan layanan Program MBG agar seluruh fasilitas operasional memenuhi standar. Baik kesehatan, sanitasi, serta tata kelola yang telah ditetapkan.
Berdasarkan data evaluasi, jumlah 1.512 SPPG yang dihentikan sementara operasionalnya tersebar di beberapa provinsi di wilayah II. Yakni DKI Jakarta sebanyak 50 unit; Banten 62 unit; Jawa Barat (Jabar) 350 unit; Jawa Tengah (Jateng) 54 unit; Jawa Timur (Jatim) 788 unit; dan DI Yogyakarta 208 unit,” ujar Dony.
Dony menyampaikan, BGN akan melakukan pendampingan serta verifikasi terhadap unit-unit yang terdampak agar dapat segera melengkapi persyaratan yang dibutuhkan. “Operasional SPPG yang dihentikan sementara akan dibuka kembali secara bertahap setelah seluruh persyaratan operasional dan standar yang ditetapkan telah dipenuhi,” pungkas Dony.
Menjembatani Pemerintah dan Harapan Masyarakat
Program MBG menghadapi tantangan operasional yang harus terus diperbaiki untuk membangun kembali kepercayaan masyarakat kepada program ini. Pasalnya, arti program MBG di mata publik kian tereduksi dan citranya semakin buruk. Hal ini diungkapkan oleh Risang Rimbatmaja, Peneliti dan praktisi komunikasi perubahan perilaku dari Yayasan Cipta.
Risang memberikan pandangan menarik terkait bagaimana respons masyarakat bisa berbeda dengan pengelola program, sekaligus memberikan masukan sesuai keahliannya untuk perbaikan tata kelola dan komunikasi publik.
“Pemahaman pengelola program, dalam hal ini Badan Gizi Nasional (BGN), dan pemahaman masyarakat itu berbeda. Secara statistik, insiden yang terjadi pada program MBG mungkin sangat kecil, hanya 0,00 sekian persen dari total porsi yang didistribusikan. Namun, bagi masyarakat, satu atau dua insiden saja sudah menjadi situasi yang menghebohkan,” ujarnya.
Logika Masyarakat dan Pengawasan SPPG
Risang menjelaskan bahwa masyarakat tidak menggunakan ‘logika proporsi’ dalam memandang program MBG, melainkan ‘logika ekspektasi’. Ketika realita di lapangan meleset dari harapan tinggi akan makanan bergizi yang aman, hal sekecil apa pun akan memicu reaksi keras. Inilah mengapa pengawasan SPPG tanpa kompromi menjadi sangat mutlak.
“Lebih-lebih lagi tantangan MBG tidak hanya pada higienitas, tetapi juga pada esensi gizi itu sendiri. Berdasarkan pengamatan yang pernah saya lakukan di beberapa kota besar di Indonesia, literasi masyarakat mengenai konsep gizi seimbang masih memprihatinkan,” ujarnya.
- Gizi seimbang sejatinya memiliki dua pilar utama, keberagaman menu dan porsi.
- Pemahaman porsi yang idealnya piring dibagi menjadi porsi karbohidrat, lauk pauk, sayur, dan buah yang proporsional sering terabaikan.
Menariknya menurut pengamatan Risang, kritik masyarakat sering kali salah sasaran. “Masyarakat biasanya tidak melihat (keseimbangan gizi) itu. Mereka lebih sering memprotes jumlahnya yang dinilai sedikit, atau jenis lauknya apa. Padahal, esensinya ada pada ragam makanan yang mewakili kebutuhan tubuh dan ketepatan porsinya,” tambahnya.
Pola Makan Masyarakat dan Program MBG
Apabila dijalankan dengan pengawasan yang baik dan edukasi yang masif, MBG adalah kunci untuk menyelamatkan masa depan kesehatan Indonesia. Risang memaparkan fakta yang cukup mengkhawatirkan terkait pola makan masyarakat kita saat ini.
Merujuk pada data kesehatan, angka konsumsi sayur dan buah orang Indonesia sangat kritis. “Orang Indonesia itu makannya kacau. Data menemukan bahwa warga yang cukup makan sayur dan buah itu cuma sekitar 6 persen. Artinya, 94 persen masyarakat kita kurang makan sayur dan buah,” tegas Risang.
Kondisi ini diperparah dengan invasi Ultra Processed Food (makanan ultra-proses) atau makanan kemasan pabrik yang kini merajalela. Dampaknya fatal: lonjakan Penyakit Tidak Menular (PTM) seperti kanker, stroke, dan diabetes yang siap menyerang kelompok usia 40-50 tahun di masa depan.
➡️ Baca Juga: 3 Cara Pakai Action Button sebagai “Mouse Klik” Saat Presentasi di TV
➡️ Baca Juga: Simak! Ini Jadwal Operasional BRI saat Libur Lebaran 202



