1.150 Hektare Sawah di Karawang Mengalami Kekeringan, Kementerian PU Turunkan 20 Pompa

Kekeringan sawah di Karawang menjadi isu yang semakin mendesak, terutama dengan meningkatnya dampak perubahan iklim dan fenomena cuaca ekstrem seperti El Niño. Dengan 1.150 hektare lahan pertanian di Kecamatan Pakisjaya yang terancam akibat kekeringan, tindakan cepat dan efektif dari pemerintah sangat diperlukan untuk menjaga ketahanan pangan. Kementerian Pekerjaan Umum (PU) melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum telah mengambil langkah signifikan dengan menurunkan 20 unit pompa untuk mengalirkan air dari Sungai Citarum ke sawah yang terdampak. Namun, tantangan yang dihadapi tidak hanya sekadar mengalirkan air, tetapi juga memastikan keberlanjutan pasokan air untuk kebutuhan sehari-hari masyarakat dan sektor pertanian.
Penanganan Kekeringan di Karawang
Menteri PU, Dody Hanggodo, menekankan bahwa pemenuhan kebutuhan air untuk pertanian merupakan prioritas utama, terutama dalam situasi kemarau ekstrem yang melanda. Kekeringan tidak hanya mengancam pasokan air, tetapi juga berimplikasi pada kehidupan sehari-hari masyarakat serta ketahanan pangan daerah tersebut. Oleh karena itu, Kementerian PU berkomitmen untuk memberikan dukungan air yang diperlukan agar lahan pertanian dapat tetap terjaga dan produktif.
Kondisi Wilayah Terdampak
Kepala BBWS Citarum, Mochammad Dian AL Ma’ruf, menjelaskan bahwa Kecamatan Pakisjaya menjadi salah satu titik kritis yang mengalami kekeringan. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, termasuk area yang tidak terjangkau oleh jaringan irigasi teknis Daerah Irigasi (DI) Jatiluhur, kerusakan infrastruktur, serta pergeseran waktu tanam. Total lahan yang terdampak kekeringan terbagi di tiga desa, yaitu Desa Solokan, Desa Telukjaya, dan Desa Tanahbaru.
- Desa Solokan
- Desa Telukjaya
- Desa Tanahbaru
Untuk mempercepat penanganan, BBWS Citarum telah mengoperasikan 20 unit pompa berkapasitas 40 hingga 80 liter per detik. Pompa-pompa ini berasal dari berbagai sumber, termasuk BBWS Citarum, BBWS Citanduy, BBWS Ciliwung Cisadane, serta Kementerian Pertanian. Pengambilan air dilakukan dari Sungai Citarum, mengingat daerah tersebut tidak memiliki sumber air alternatif dan berbatasan dengan kawasan air asin.
Upaya Pemulihan dan Normalisasi
Dalam rangka mengatasi masalah kekeringan ini, selain pemompaan, Kementerian PU juga melakukan normalisasi saluran irigasi guna mengatasi penghambatan aliran air. Kegiatan ini dilaksanakan dari 19 Agustus hingga 28 September 2026 dan berhasil membantu mengairi 400 hektare sawah yang sebelumnya terancam kekeringan. Langkah-langkah ini diharapkan dapat mendukung tanaman yang sudah tumbuh (standing crop) serta lahan-lahan yang bersiap untuk ditanam.
Dari total 1.150 hektare lahan yang terdampak di Pakisjaya, upaya penanganan yang dilakukan telah berhasil mengairi sekitar 400 hektare, baik untuk lahan yang sudah ditanami maupun yang akan segera ditanami. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun tantangan yang dihadapi cukup besar, kolaborasi antara pemerintah dan berbagai pihak dapat memberikan solusi yang efektif.
Operasi Modifikasi Cuaca
Sebagai bagian dari upaya penanganan kekeringan, Kementerian PU juga berkolaborasi dengan TNI AU, PJT II, dan BMKG dalam melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Program ini bertujuan untuk menciptakan hujan buatan di berbagai wilayah, termasuk Jawa Barat dan Jabodetabek. OMC dilaksanakan secara bertahap mulai tanggal 18 September hingga 4 Oktober 2026, untuk menjaga 523 ribu hektare lahan sawah dengan cakupan sekitar 2.000 km jaringan irigasi di Wilayah Sungai Citarum.
Hasil dari operasi ini menunjukkan bahwa hingga 3 Oktober, ketersediaan air di tampungan telah bertambah sebanyak 45,8 juta meter kubik. Ini merupakan pencapaian yang signifikan dalam upaya menjaga ketersediaan air untuk irigasi dan kebutuhan masyarakat.
Koordinasi dan Normalisasi Saluran Irigasi
Dian menambahkan bahwa pihaknya juga melakukan koordinasi yang intensif di antara pengelola waduk untuk memastikan bahwa ketersediaan air irigasi, serta air baku dan listrik, tetap terjaga tanpa adanya pemborosan air. Normalisasi saluran irigasi di titik-titik yang menghambat aliran air juga menjadi fokus utama untuk memaksimalkan distribusi air ke lahan pertanian yang membutuhkan. Upaya ini diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi ketahanan pangan serta kesejahteraan masyarakat di daerah terdampak.
Dengan berbagai langkah yang diambil, Kementerian PU menunjukkan komitmennya dalam menghadapi tantangan kekeringan sawah di Karawang. Kerjasama antara pemerintah, masyarakat, dan berbagai institusi lainnya menjadi kunci dalam mengatasi masalah ini. Dengan harapan, semua upaya yang dilakukan dapat memberikan solusi jangka panjang untuk memastikan ketersediaan air bagi lahan pertanian, serta mendukung kehidupan masyarakat yang bergantung pada sektor pertanian.
➡️ Baca Juga: Polisi Kolombia Berhasil Mengamankan 5 Ton Kokain dalam Operasi Terpadu
➡️ Baca Juga: KAI Tingkatkan Proses Evakuasi Penumpang, DAOP 1 Percepat Kembali Normal




