Strategi Modern Mengelola Risiko Kredit: Pendekatan Simplifa.ai dan Perbankan Hadapi Manipulasi Data

Jakarta – Kejahatan di sektor keuangan telah memasuki fase yang lebih kompleks dan berbahaya. Pelaku penipuan kini tidak lagi menggunakan teknik sederhana untuk memalsukan dokumen. Mereka telah beralih ke pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) yang mampu menghasilkan data bank yang sangat mendekati keaslian, menjadikan upaya penipuan semakin sulit untuk terdeteksi.
Forum Diskusi Strategis
Menanggapi meningkatnya ancaman ini, Infobank bekerja sama dengan Simplifa.ai mengadakan forum bertajuk “Dari Risiko ke Ketahanan: Bagaimana AI Mendefinisikan Strategi Kredit di Era Penipuan dan Ketidakpastian” yang berlangsung di JW Marriott Jakarta. Forum ini bertujuan untuk mendiskusikan tantangan dan solusi dalam mengelola risiko kredit di tengah kemajuan teknologi yang pesat.
Acara ini menghadirkan sejumlah pembicara yang memiliki kompetensi tinggi dalam bidangnya, seperti Sophia Isabella Wattimena, Anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang turut hadir secara daring. Selain itu, hadir pula Aditya Mahendra, Manajer Madya dari Direktorat Penanganan Aktivitas Keuangan Ilegal dan Penipuan Transaksi Keuangan OJK, serta Thomas Airlangga, Chief Risk Officer dan Head of Credit Standard Chartered Bank Indonesia. Mereka juga diikuti oleh Gema Buana Putra, CEO dan Co-Founder Simplifa.ai, dan Dr. Bayu Prawira Hie, Konsultan Manajemen dan Presiden Direktur Indonesia Open Network (ION).
Pergeseran dalam Teknologi AI
Dalam forum ini, Sophia Isabella Wattimena menyoroti bahwa perkembangan teknologi AI telah mengalami transisi signifikan dari AI tradisional menuju Generative AI dan kini ke Agentic AI. Menurutnya, saat ini sekitar 23% perusahaan telah beralih ke penggunaan Agentic AI, dan angka ini diprediksi akan meningkat lebih dari 70% dalam dua tahun mendatang.
Namun, tantangan besar muncul karena percepatan adopsi teknologi ini tidak sejalan dengan kesiapan tata kelola yang ada. Hal ini menciptakan kesenjangan antara kemajuan teknologi dan kemampuan organisasi untuk mengidentifikasi, mengendalikan, serta mengantisipasi risiko yang timbul.
“Ini menunjukkan bahwa kemajuan teknologi berlangsung jauh lebih cepat dibandingkan dengan kesiapan organisasi untuk mengelolanya,” jelas Sophia.
Transformasi dalam Peluang dan Ancaman
Thomas Airlangga menambahkan bahwa perkembangan teknologi telah mengubah secara signifikan cara pelaku penipuan beroperasi. Sebelumnya, penipuan dapat dilacak melalui dokumen fisik atau aplikasi yang dimanipulasi, namun sekarang, pelaku melakukan tindakan fraud tanpa tatap muka dan memanfaatkan data yang tersebar di berbagai platform digital.
“Sekarang, penipuan tidak tampak jelas, tidak ada aplikasi yang terlihat. Semua beroperasi secara digital. Dari interaksi tatap muka ke interaksi tanpa tatap muka, dari dokumen ke data, dan dari kejadian terisolasi ke serangan berskala besar,” ungkap Thomas.
Perubahan ini membuat tugas manajemen risiko semakin rumit. Penipuan yang dulunya dapat ditangani sebagai kejadian individu kini dapat berkembang menjadi serangan yang meluas sebelum pihak institusi menyadarinya. Risiko yang dihadapi pun semakin beragam, mencakup risiko kredit, siber, pencucian uang, hingga risiko reputasi. Pelaku kejahatan kini dapat beroperasi dari luar negeri, sedangkan korbannya berada di dalam negeri.
Inovasi untuk Menghadapi Tantangan
Sementara itu, Gema Buana Putra dari Simplifa.ai menjelaskan bahwa perubahan modus operandi pelaku penipuan yang semakin canggih memaksa industri keuangan untuk terus berinovasi dalam teknologi. Perusahaan harus menciptakan sistem deteksi yang mampu beradaptasi dengan pola penipuan yang baru.
Gema menegaskan bahwa Simplifa.ai, yang beroperasi dengan model Software as a Service (SaaS), terus memperbarui sistemnya berdasarkan pola penipuan yang teridentifikasi dari klien dan perubahan perilaku transaksi di pasar.
“Perubahan kebijakan bank, biaya administrasi, pola bank fee, hingga karakteristik dokumen dapat berubah sewaktu-waktu. Oleh karena itu, sistem yang kita bangun tidak bisa dibiarkan beroperasi dengan cara yang sama selama bertahun-tahun,” tambahnya.
Perlunya Respons yang Cepat
Di tengah persaingan yang ketat melawan pelaku penipuan yang memanfaatkan AI, Gema menekankan bahwa pertempuran ini bukan lagi sekadar adu kecanggihan teknologi, tetapi lebih kepada kecepatan respons. Dalam menghadapi gelombang penipuan berbasis algoritma, adopsi AI analitis dan pembaruan sistem secara dinamis menjadi sangat penting untuk menjaga integritas serta perlindungan sektor keuangan.
- Perubahan teknologi yang cepat mempengaruhi cara fraud beroperasi.
- Organisasi perlu meningkatkan kesiapan dalam mengelola risiko yang muncul akibat kemajuan teknologi.
- Adopsi AI dalam manajemen risiko harus diiringi dengan sistem deteksi yang adaptif.
- Risiko kredit kini semakin kompleks dan melibatkan banyak aspek.
- Kecepatan respons menjadi kunci dalam melawan penipuan yang semakin canggih.
Dengan demikian, tantangan yang dihadapi industri keuangan saat ini sangat memerlukan pendekatan inovatif dan kolaboratif, di mana teknologi dan kebijakan berjalan beriringan untuk menciptakan ekosistem yang lebih aman dan resilient.
➡️ Baca Juga: Info Terkini Jadwal Buka Puasa Hari Ini di Banten: Serang, Cilegon, Tangerang dan Sekitarnya
➡️ Baca Juga: Kang-In Lee dan Alex Baena Bawa Atletico Madrid Menang di Laga Pembuka La Liga 2026-2027




