Kemenekraf dan BI Tingkatkan Kolaborasi untuk Meningkatkan Kualitas Pelaku Ekraf

Jakarta – Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenekraf) telah mengambil langkah strategis untuk memperkuat kolaborasinya dengan Bank Indonesia (BI) dalam upaya mendukung pertumbuhan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta para pelaku ekonomi kreatif (ekraf). Melalui kolaborasi ini, Kemenekraf berkomitmen untuk menyediakan akses pembiayaan, memfasilitasi digitalisasi, meningkatkan pemasaran, serta mengembangkan potensi yang ada di berbagai daerah.
Strategi Kolaborasi Kemenekraf dan BI
Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya menekankan bahwa terdapat empat strategi utama yang menjadi fokus kerja sama antara Kemenekraf dan BI. Strategi tersebut tercantum dalam Peraturan Presiden (Perpres) yang mengatur Rencana Induk Ekonomi Kreatif (Rindekraf).
“Penguatan kolaborasi dengan BI mencakup aspek creative financing, creative digitalization, creative market access, dan pengembangan ekraf yang berbasis pada potensi daerah,” ungkap Riefky saat memberikan sambutan di acara Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026 yang diadakan di Jakarta.
Pendanaan dan Pembiayaan
Riefky menjelaskan bahwa kolaborasi ini akan melibatkan strategi pendanaan yang bertujuan untuk menghubungkan pelaku ekraf dengan berbagai sumber pembiayaan serta mitra usaha. Ini penting untuk memberikan peluang bagi pelaku ekraf dalam mengakses modal yang dibutuhkan untuk mengembangkan usaha mereka.
Aktivasi Ruang Kreatif di Daerah
Lebih lanjut, kolaborasi ini juga akan berfokus pada pengaktifan ruang-ruang kreatif yang dimiliki oleh komunitas di berbagai daerah. Riefky menegaskan bahwa ruang kreatif tidak hanya terpusat di ibu kota provinsi, melainkan juga tersebar di wilayah lain yang memiliki potensi yang bisa dikembangkan.
“Aktivasi ruang publik sangat penting. Misalnya, BI telah memiliki Rumah Kreatif BI, dan kami berharap dapat berkolaborasi untuk menghidupkan ruang-ruang kreatif yang ada di luar ibu kota provinsi. Banyak potensi yang bisa kita kembangkan di sana,” jelasnya.
Pencatatan Ekonomi Kreatif yang Lebih Baik
Riefky juga menyoroti pentingnya kolaborasi dengan BI untuk meningkatkan pencatatan kontribusi ekonomi kreatif, khususnya dalam hal ekspor jasa. Salah satu langkah yang diambil adalah dengan mengembangkan platform Big Data Ekraf yang mampu mencatat data secara lebih akurat.
Selama ini, data ekspor yang dicatat lebih banyak berfokus pada produk fisik yang dikirim melalui jalur laut dan udara, sedangkan aktivitas ekonomi dari jasa kreatif berbasis digital masih belum sepenuhnya tercatat.
Oleh karena itu, Kemenekraf bersama BI akan berupaya mendorong agar aktivitas jasa kreatif yang dilakukan melalui platform digital dapat teridentifikasi dan dicatat dengan lebih baik. Dengan langkah ini, kontribusi sektor ekraf terhadap penerimaan devisa nasional dapat lebih jelas dan akurat.
Pencatatan Jasa Kreatif
Kita akan bekerja sama dengan BI untuk memastikan bahwa pencatatan jasa kreatif, khususnya yang dilakukan melalui platform digital, dapat dilakukan dengan baik. Hal ini penting agar devisa dari sektor ini tercatat secara tepat,” tutur Riefky.
Pemanfaatan Data dan Pemasaran
Kemenekraf dan BI juga berkolaborasi dalam mengembangkan sistem pemasaran yang lebih terstruktur melalui pemetaan data dan pasar. Salah satu strategi yang menjadi perhatian adalah pemberian insentif, termasuk pengembangan skema insentif yang mendukung inovasi yang ramah lingkungan atau yang dikenal dengan istilah green creative economy.
Riefky menekankan bahwa perkembangan sektor ekraf yang diproyeksikan pada tahun 2025 menunjukkan pertumbuhan yang signifikan, baik dari sisi investasi, ekspor, tenaga kerja, maupun kontribusinya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Data ini dihitung berdasarkan 238 Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI).
Kontribusi Sektor Ekraf
Dari sisi investasi, sektor ekraf memberikan kontribusi sekitar 9,5 persen dari total realisasi investasi nasional dan telah mencapai 134 persen dari target yang ditetapkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN). Pada triwulan pertama tahun 2026, realisasi investasi sektor ekraf juga mendekati 50 persen dari target tahun berjalan.
Riefky menambahkan bahwa KKI yang diinisiasi oleh BI merupakan salah satu platform penting untuk memperkuat ekosistem UMKM dan ekonomi kreatif. Melalui acara ini, diharapkan akan terjadi peningkatan kapasitas, kualitas, dan akses pasar bagi para pelaku UMKM dan ekraf.
Peluang Masa Depan
Kolaborasi antara Kemenekraf dan BI tidak hanya menjadi langkah strategis dalam pengembangan sektor ekraf, tetapi juga membuka peluang yang lebih luas bagi pelaku UMKM untuk berkontribusi dalam perekonomian nasional. Dengan menghadirkan akses yang lebih baik terhadap pembiayaan, digitalisasi, dan pemasaran, diharapkan pelaku ekraf dapat semakin berdaya saing di pasar global.
Inisiatif ini juga bertujuan untuk mengoptimalkan potensi ekonomi kreatif yang ada di setiap daerah, sehingga dapat memberikan dampak positif tidak hanya pada tingkat lokal tetapi juga nasional. Dengan demikian, kolaborasi ini menjadi sebuah langkah penting untuk mencapai tujuan pembangunan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
Melalui kolaborasi yang erat antara Kemenekraf dan BI, diharapkan sektor ekonomi kreatif di Indonesia akan semakin maju dan berkontribusi lebih besar terhadap perekonomian nasional, terutama dalam menghadapi tantangan dan peluang di era digital yang semakin berkembang.
➡️ Baca Juga: Tingkatkan Peluang Belanja Anda: Transmart Full Day Sale Hadir Kembali dengan Diskon Menarik!
➡️ Baca Juga: BPBD DKI Mendeteksi Daerah Rawan Longsor di Jaksel dan Jaktim Akibat Curah Hujan Tinggi




