JAFF Market Menghasilkan Dampak Ekonomi Rp166 Miliar bagi Yogyakarta

Pertumbuhan industri film Indonesia mengalami perkembangan yang signifikan, tidak hanya terlihat dari jumlah penonton yang memadati bioskop, tetapi juga dari dampak ekonomi yang dihasilkan di kota-kota pelaksana kegiatan perfilman. Salah satu inisiatif yang berperan penting dalam hal ini adalah JAFF Market, yang pada penyelenggaraan edisi 2024 dan 2025 mencatat estimasi dampak ekonomi mencapai Rp166 miliar untuk Yogyakarta serta sektor-sektor terkaitnya. Angka ini menggambarkan besarnya aktivitas industri film di luar tayangan layar, menunjukkan bahwa ekosistem perfilman kini semakin luas dan kompleks.
JAFF Market: Jembatan Antara Kreativitas dan Bisnis
JAFF Market merupakan bagian integral dari Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF). Acara ini berfungsi sebagai platform yang mempertemukan berbagai elemen penting dalam dunia perfilman, termasuk produser, investor, distributor, dan berbagai pihak lainnya. Seiring dengan meningkatnya minat pada film Indonesia, JAFF Market berupaya untuk mengoptimalkan potensi ini dengan menciptakan ruang kolaborasi yang lebih besar.
Dalam laporan yang dirilis oleh JAFF Market, data menunjukkan bahwa film Indonesia mengalami sekitar 83 juta admissions sepanjang tahun 2025. Pada semester pertama 2026, kunjungan ke bioskop nasional tercatat mencapai 53,77 juta admissions, di mana film Indonesia mendominasi dengan porsi 71,2 persen, atau sekitar 38,3 juta admissions. Ini menunjukkan bahwa kekuatan industri film Indonesia tidak hanya terletak pada kualitas produksi dan kreativitas, tetapi juga pada basis penonton domestik yang sangat besar.
Membangun Ekosistem Bisnis yang Berkelanjutan
Tantangan yang dihadapi saat ini adalah bagaimana pertumbuhan ini dapat menciptakan ekosistem bisnis yang lebih luas dan membuka akses bagi karya-karya Indonesia menuju pasar internasional. JAFF Market berupaya menjawab kebutuhan ini dengan menyediakan ruang bagi proyek-proyek film dan kekayaan intelektual untuk diperkenalkan kepada para pelaku industri.
- Ruang pertemuan bisnis yang produktif.
- Pertemuan antara produser, investor, dan distributor.
- Pengembangan talenta dan kapasitas industri.
- Pembiayaan dan distribusi yang lebih baik.
- Kolaborasi internasional yang strategis.
Perkembangan JAFF Market dari Tahun ke Tahun
Pada penyelenggaraan pertamanya di tahun 2024, JAFF Market berhasil menarik 6.723 peserta dari 18 negara dan menampilkan 151 booth yang mencerminkan berbagai sektor industri. Edisi berikutnya di tahun 2025 menunjukkan pertumbuhan yang signifikan dengan lebih dari 114 exhibitor dan lebih dari 1.500 peserta terakreditasi, termasuk delegasi internasional dari Asia Pasifik, Eropa, dan Amerika Utara.
Program-program yang ditawarkan selama JAFF Market mencakup pitching proyek, pertemuan bisnis, serta forum industri yang berfokus pada pengembangan dan kolaborasi. Dengan demikian, festival film yang sebelumnya berorientasi pada pemutaran karya kini memiliki dimensi bisnis yang lebih luas, meliputi pembiayaan, distribusi, dan pengembangan proyek.
Visi JAFF Market untuk Masa Depan
Linda Gozali, selaku Market Director JAFF Market, menekankan bahwa perluasan akses merupakan tujuan utama dari penyelenggaraan JAFF Market. “Sejak awal, JAFF Market dirancang untuk menjadi jembatan antara potensi industri film Indonesia dan peluang di tingkat internasional. Kami ingin semakin banyak proyek dan pelaku industri Indonesia memperoleh akses terhadap jejaring, mitra, dan peluang kolaborasi yang dapat mendukung perjalanan karya mereka,” ujarnya.
JAFF Market Goes Global: Kunjungan Strategis ke Toronto
JAFF Market tidak hanya berfokus pada pengembangan di dalam negeri, tetapi juga berupaya memperluas jaringan internasional. Pada 10 hingga 16 September 2026, JAFF Market melakukan kunjungan strategis ke Toronto, Kanada. Kunjungan ini bertujuan untuk membangun hubungan dengan lembaga perfilman, perusahaan produksi, sales agent, distributor, dan profesional industri di tingkat global.
Kegiatan ini bertepatan dengan penayangan film “Empat Musim Pertiwi” karya Kamila Andini dalam program Centrepiece Toronto International Film Festival (TIFF) 2026. Film yang ditulis dan disutradarai oleh Kamila Andini ini merupakan satu-satunya film panjang Indonesia yang terpilih di TIFF tahun ini dan dijadwalkan menggelar world premiere pada 13 September 2026 di Scotiabank Theatre Toronto.
Keterhubungan Antara JAFF Market dan Festival Internasional
Momen ini menunjukkan bagaimana JAFF Market tidak hanya berfungsi sebagai tempat transaksi bisnis, tetapi juga sebagai ruang untuk memperkenalkan proyek-proyek film kepada jaringan industri yang lebih luas. Sebelum terpilih di TIFF, film “Empat Musim Pertiwi” terlebih dahulu diperkenalkan kepada pelaku industri melalui peluncuran dan penayangan cuplikan eksklusif di JAFF Market 2025.
Sekarini Seruni, Business Director JAFF Market, menjelaskan bahwa kunjungan ke Toronto ini dimaksudkan untuk membangun relasi yang dapat berujung pada kerja sama yang konkret. “Potensi industri film Indonesia perlu diangkat dalam percakapan internasional yang tepat. Kehadiran kami di Toronto bukan hanya untuk memperkenalkan JAFF Market, tetapi juga untuk membangun kerjasama yang dapat menguntungkan para pelaku industri dari Indonesia dan negara lain,” katanya.
Dampak Ekonomi JAFF Market: Rp166 Miliar untuk Yogyakarta
Estimasi dampak ekonomi sebesar Rp166 miliar dari dua edisi JAFF Market menunjukkan bahwa kegiatan industri film dapat memberikan efek positif yang jauh melampaui produksi dan pemutaran film. Aktivitas market ini menarik banyak peserta, perusahaan, dan menciptakan pertemuan bisnis yang berkontribusi pada kebutuhan akomodasi, transportasi, konsumsi, dan aktivitas pendukung lainnya di Yogyakarta.
Namun, angka tersebut perlu dipahami dalam konteks yang lebih luas. Meskipun pasar domestik menunjukkan pertumbuhan yang signifikan, tidak semua bagian dari ekosistem film Indonesia berkembang dengan kecepatan yang sama. Masih ada tantangan yang harus dihadapi, termasuk akses pembiayaan, distribusi yang lebih baik, jaringan internasional yang kuat, infrastruktur yang memadai, serta data yang mendukung pengambilan keputusan.
Pentingnya Data dalam Pengembangan Industri Film
JAFF Market menyadari pentingnya data dalam memahami perkembangan industri film Indonesia. Dalam laporan yang dirilis bersama Cinepoint pada JAFF Market 2025, data menjadi fondasi untuk menganalisis berbagai aspek, mulai dari admissions, dampak ekonomi, produksi, hingga tren investasi. Dengan pasar domestik yang semakin besar dan aktivitas industri yang mulai memberikan dampak ekonomi lokal, penting untuk mempertanyakan apakah pertumbuhan ini dapat berkontribusi pada posisi yang lebih kuat bagi film Indonesia di pasar global.
Menuju Edisi Ketiga JAFF Market
JAFF Market berencana untuk melanjutkan upayanya dengan penyelenggaraan edisi ketiganya pada 28 hingga 30 November 2026 di Jogja Expo Center, Yogyakarta. Program yang akan ditawarkan mencakup JAFF Future Project, JAFF IP Connection, Producers Exchange, Film Lab, Market Screening, Film Industry Exhibition, serta Film & Market Conference.
Jika perjalanan “Empat Musim Pertiwi” dari JAFF Market menuju TIFF menjadi salah satu contoh, maka nilai sebuah market film tidak hanya terukur dari jumlah peserta atau transaksi yang terjadi selama acara berlangsung. Ukurannya juga terletak pada sejauh mana pertemuan yang terjadi di dalamnya mampu membawa karya, talenta, modal, dan gagasan Indonesia bergerak lebih maju setelah festival berakhir.
➡️ Baca Juga: Kerry Adrianto Riza Ditetapkan Sebagai Saksi dalam Kasus Korupsi Minyak Mentah Pertamina
➡️ Baca Juga: Pelaksanaan TKA 2026 Jenjang SMA Dirombak, 1 Hari Cuma 1 Mapel




