Digitalisasi Museum oleh Lestari Moerdijat: Mengintegrasikan Teknologi dan Pelestarian Budaya Nasional

Digitalisasi museum kini menjadi aspek penting dalam pengelolaan lembaga budaya yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan artefak, tetapi juga sebagai pengingat kolektif budaya bangsa. Dalam era teknologi yang kian maju, integrasi antara teknologi dan pelestarian budaya bukan lagi sekadar pilihan, melainkan suatu kebutuhan. Lestari Moerdijat, Wakil Ketua MPR RI, menekankan pentingnya digitalisasi sebagai langkah strategis untuk mendekatkan museum kepada masyarakat, terutama generasi muda. Dalam diskusi daring bertajuk “Museum sebagai Rumah Ingatan, Rumah Belajar, dan Bagian dari Infrastruktur Kebangsaan di Era Generasi Digital dan Perkembangan AI,” Lestari, yang akrab disapa Rerie, mengungkapkan bahwa kecerdasan buatan dapat memperluas jangkauan museum dalam menyebarkan pengetahuan dan nilai-nilai budaya.
Peran Strategis Museum dalam Pelestarian Budaya
Dalam pandangannya, Rerie menjelaskan bahwa museum seharusnya dipahami bukan hanya sebagai tempat penyimpanan benda-benda bersejarah, tetapi sebagai tempat yang menyimpan ingatan kolektif bangsa. Menurutnya, dengan memanfaatkan teknologi digital, museum dapat menawarkan pengalaman yang lebih menarik dan interaktif bagi pengunjung. Hal ini menjadi sangat penting mengingat banyaknya organisasi pecinta museum yang kini tumbuh di Indonesia, yang menunjukkan adanya potensi besar untuk pengembangan sektor ini di masa depan.
Rerie juga menyoroti pentingnya momen peringatan Hari Museum dan Hari Kebudayaan, yang jatuh berdekatan, sebagai pengingat akan peran sentral museum dalam memperkuat ingatan budaya masyarakat. “Kebudayaan tidak mungkin diwariskan tanpa ingatan yang terpelihara,” katanya, menegaskan bahwa museum harus menyajikan cerita, catatan, dan data yang mendukung pemahaman masyarakat tentang sejarah dan budaya mereka.
Pentingnya Kolaborasi dalam Pengelolaan Museum
Putu Supadma Rudana, Ketua Umum Asosiasi Museum Indonesia (AMI), juga menjelaskan bahwa museum berfungsi sebagai jembatan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan. Dia berpendapat bahwa pencapaian sejarah bangsa Indonesia patut untuk disajikan dengan baik, mengingat banyak artefak bersejarah yang kini tersimpan di luar negeri. “Idealnya, museum harus bisa menyajikan informasi yang relevan dan edukatif tentang sejarah bangsa,” ujarnya.
- Museum sebagai jembatan antara masa lalu dan masa kini
- Pentingnya menyajikan sejarah dengan cara yang menarik
- Relevansi museum dalam konteks pendidikan
- Perlunya dukungan hukum untuk pengelolaan museum
- Kolaborasi dengan berbagai pihak untuk pengembangan museum
Transformasi Digital dalam Museum
Perkembangan teknologi digital memberikan peluang emas bagi museum untuk tidak hanya mengedukasi, tetapi juga menghibur pengunjung. Dengan mengadopsi teknologi seperti augmented reality (AR) dan virtual reality (VR), museum dapat menciptakan pengalaman yang menakjubkan bagi pengunjung, terutama generasi muda yang lebih akrab dengan teknologi. Dalam hal ini, digitalisasi museum bukan hanya tentang memindahkan informasi ke platform digital, tetapi juga tentang menciptakan interaksi yang lebih menarik antara pengunjung dan konten yang disajikan.
Menurut Dr. Tular Sudarmadi dari Universitas Gadjah Mada, penting untuk melakukan dekolonisasi dalam pengelolaan museum. Dia menekankan perlunya melibatkan masyarakat dalam proses penafsiran sejarah, bukan hanya mengandalkan narasi dari kurator. Dengan melibatkan komunitas lokal, museum dapat menawarkan perspektif yang lebih kaya dan beragam mengenai sejarah dan budaya, serta memperkuat narasi kolektif yang ada di masyarakat.
Regulasi dan Standarisasi dalam Digitalisasi Museum
Endah Budi Heryani, Direktur Sejarah dan Permuseuman dari Kementerian Kebudayaan, menjelaskan bahwa arah kebijakan strategis untuk museum pada tahun 2026 mencakup penguatan regulasi dan registrasi nasional. Langkah ini bertujuan untuk memastikan bahwa semua museum di Indonesia memiliki standar yang jelas dan dapat diakui secara nasional. “Dengan adanya nomor pendaftaran nasional, kita dapat lebih mudah melakukan standarisasi dan meningkatkan kualitas museum di tanah air,” jelas Endah.
Selain itu, dia juga menekankan pentingnya kolaborasi antara museum dan publik dalam mengembangkan ekonomi budaya. Ini termasuk tidak hanya dalam hal pengelolaan, tetapi juga dalam upaya menarik minat masyarakat untuk berkunjung ke museum.
Menarik Minat Generasi Muda untuk Berkunjung ke Museum
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Ajeng Ayu Arainikasih dari Universitas Indonesia, terungkap bahwa banyak keluarga kelas menengah yang tidak mengajak anak-anak mereka ke museum. Alasan utama yang ditemukan dalam penelitian tersebut adalah kurangnya informasi mengenai museum, pameran yang dianggap tidak menarik, serta fasilitas yang kurang memadai. “Ada kesenjangan antara upaya pemerintah untuk merevitalisasi museum dan ketertarikan masyarakat untuk mengunjungi,” ungkap Ajeng.
- Fasilitas yang baik, seperti toilet bersih dan area parkir yang memadai, sangat diperlukan
- Koleksi yang bercerita dapat menarik minat pengunjung
- Pentingnya program edukasi yang menarik bagi anak-anak dan keluarga
- Pengalaman fisik dan digital (phigital) yang menarik bagi Gen Z dan Gen Alpha
- Kerjasama dengan sekolah dan komunitas untuk meningkatkan kunjungan
Menjadikan Museum sebagai Destinasi Menarik
Wartawan senior Usman Kansong menambahkan, daya tarik utama bagi pengunjung untuk datang ke museum adalah koleksi yang menarik. Dia mencontohkan bagaimana orang rela antre di museum terkenal seperti Louvre di Paris hanya untuk melihat karya seni terkenal. “Jika kita ingin menarik minat publik, kita harus memperbaiki koleksi museum terlebih dahulu,” tegasnya. Menurut Usman, dengan memperbaiki aspek koleksi, aspek lain seperti tata letak dan digitalisasi akan mengikuti secara alami.
Dalam konteks ini, penting bagi Kementerian Kebudayaan untuk menempatkan penilaian koleksi sebagai prioritas utama dalam pengembangan museum. Dengan demikian, diharapkan museum dapat menjadi lembaga yang tidak hanya menyimpan sejarah, tetapi juga menjadi tempat edukasi dan hiburan bagi masyarakat luas.
Membangun Kesadaran dan Keterlibatan Masyarakat
Kesadaran akan pentingnya museum sebagai tempat pelestarian budaya dan sejarah perlu terus ditingkatkan. Melalui program edukasi, seminar, dan kegiatan kolaboratif, masyarakat dapat lebih memahami dan menghargai nilai-nilai budaya yang ada di sekeliling mereka. Dengan melibatkan masyarakat dalam berbagai aktivitas di museum, diharapkan dapat tercipta rasa memiliki dan tanggung jawab dalam menjaga warisan budaya.
Digitalisasi museum, dengan penekanan pada teknologi dan inovasi, adalah langkah penting untuk memastikan bahwa museum tetap relevan di tengah perubahan zaman. Dengan memberikan akses informasi yang lebih luas dan pengalaman yang lebih menarik, diharapkan museum dapat menarik lebih banyak pengunjung, terutama generasi muda yang merupakan penerus budaya bangsa.
Dengan demikian, digitalisasi museum bukan hanya sekadar modernisasi, tetapi merupakan langkah strategis untuk menjaga warisan budaya Indonesia agar tetap hidup dan relevan di era digital ini. Ini adalah tantangan sekaligus peluang bagi semua pihak yang terlibat dalam pengelolaan museum di Indonesia untuk berkolaborasi demi masa depan yang lebih baik dalam pelestarian budaya.
➡️ Baca Juga: Layanan Wisata Lebaran Terbukti Optimal, Menpar Hargai Usaha Tim di Lapangan
➡️ Baca Juga: Kecerdikan Iran Hadapi Amerika dan Sekutunya di Timur Tengah jadi Sorotan Luhut Binsar Pandjaitan




