Data Center Jatiluhur Memerlukan 33 Juta Liter Air Harian, PAM Jaya Perlu Waspada

Jakarta – Pengembangan pusat data yang memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) oleh BDx di kawasan Jatiluhur, Purwakarta, Jawa Barat, kini menarik perhatian dari DPRD DKI Jakarta. Proyek ini mengindikasikan kebutuhan air yang signifikan, yang berpotensi memberikan dampak pada sumber air baku yang selama ini menjadi penopang utama kebutuhan air di Jakarta.
Kebutuhan Air yang Meningkat Signifikan
Anggota Komisi B DPRD DKI Jakarta, Ade Suherman, menyatakan bahwa kebutuhan air untuk proyek ini perlu mendapat perhatian khusus, terutama jika pengembangan fasilitas mencapai kapasitas puncaknya. Pada tahap maksimal, perkiraan kebutuhan air bisa mencapai 384 liter per detik, yang setara dengan 33 juta liter setiap harinya.
Investasi Proyek yang Besar
Proyek pusat data AI milik BDx ini memiliki nilai investasi yang cukup besar, yaitu sekitar Rp3,5 triliun. Pada fase awal, diperkirakan kebutuhan air mencapai sekitar 6.000 meter kubik per hari, dan jumlah ini diprediksi akan meningkat seiring dengan perkembangan fasilitas tersebut.
Pentingnya Sumber Air Bakus untuk Jakarta
Besar kebutuhan air dari proyek ini menjadi perhatian utama karena Waduk Jatiluhur merupakan salah satu sumber air baku utama untuk sistem penyediaan air minum di Jakarta. Setiap perubahan dalam pemanfaatan air di kawasan tersebut harus dihitung dengan cermat, mempertimbangkan kebutuhan jangka panjang masyarakat Jakarta.
Waspada terhadap Ketergantungan Air
“Ini harus menjadi peringatan bagi Jakarta,” ungkap Ade dalam keterangan resminya. Ia menekankan bahwa perhatian DPRD DKI bukan berarti menolak investasi di pusat data atau kemajuan teknologi berbasis AI. Namun, kebutuhan air dalam volume besar harus dipertimbangkan dalam konteks ketahanan air regional, agar industri tetap beroperasi tanpa mengorbankan ketersediaan air bagi masyarakat.
Ketergantungan Jakarta pada Waduk Jatiluhur
Ade menyoroti tingginya ketergantungan Jakarta terhadap Waduk Jatiluhur sebagai salah satu sumber air baku utama. Data dari PAM Jaya menunjukkan bahwa Jatiluhur mencakup kapasitas sumber air sekitar 18.000 liter per detik, menjadikannya sebagai penyokong utama bagi kebutuhan air kota.
Pemantauan Ketersediaan Air
Seiring dengan perkembangan ini, Direktur Utama PAM Jaya, Arief Nasrudin, menyatakan bahwa Jakarta masih sangat bergantung pada sumber air dari Jatiluhur hingga akhir Agustus 2026. Hasil pemantauan bersama Perum Jasa Tirta II menunjukkan bahwa kondisi Waduk Jatiluhur masih berada dalam batas aman.
Keberlanjutan Pasokan Air
PAM Jaya dan Perum Jasa Tirta II mencatat bahwa kebutuhan air untuk penyediaan air minum, irigasi, industri, dan kebutuhan lainnya masih dapat terpenuhi hingga akhir 2026. Namun, Ade menekankan bahwa situasi ini harus dijadikan momentum untuk memperkuat pengawasan terhadap neraca air dalam jangka panjang.
Menjaga Kewaspadaan
“Kalau saat ini masih aman, bukan berarti kita boleh lengah,” tegasnya. Ade meminta PAM Jaya agar tidak hanya fokus pada pengelolaan air yang sudah masuk ke Jakarta, tetapi juga aktif dalam mengawasi sumber air baku di wilayah hulu.
Kolaborasi dalam Pengawasan Sumber Air
Pengawasan ini dianggap perlu dilakukan secara kolaboratif dengan Perum Jasa Tirta II dan pemerintah daerah terkait untuk memastikan keberlanjutan pasokan air bagi Jakarta. Hal ini penting untuk menjaga agar kebutuhan air masyarakat tetap terpenuhi seiring dengan meningkatnya permintaan.
PAM Jaya dan Tugas Utama Sebagai BUMD
Di samping persoalan sumber air baku, Ade juga mengingatkan PAM Jaya agar tidak menggeser fokus utama sebagai BUMD penyedia layanan air minum bagi warga Jakarta. Menurutnya, penguatan bisnis perusahaan harus tetap diarahkan untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik.
Membangun Perusahaan yang Kuat
Ade menekankan, “PAM Jaya dapat berkembang menjadi perusahaan yang kuat, tetapi bisnis intinya tetaplah pelayanan air minum.” Pengembangan yang berkelanjutan harus sejalan dengan komitmen untuk melayani masyarakat dengan baik.
Kesimpulan
Dengan perkembangan yang pesat pada proyek pusat data di Jatiluhur, penting bagi semua pihak untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan industri dan ketersediaan air bagi masyarakat. Pengawasan yang ketat dan kolaborasi antara lembaga terkait akan menjadi kunci untuk memastikan keberlanjutan pasokan air di Jakarta di masa depan.
➡️ Baca Juga: AS-Iran Rukunkan, IHSG Melonjak 2 Persen Dipimpin Oleh Sektor Tertentu
➡️ Baca Juga: Bendungan Katulampa Siaga 4, Bogor Terkena Hujan Lebat yang Mengguyur Wilayahnya




