Pesantren Baitul Arqom Jember dan Sanad Elite Gontor yang Menarik Perhatian

Pesantren Baitul Arqom di Balung, Jember, Jawa Timur, telah menjadi simbol penting dalam sejarah pendidikan Islam di Indonesia, terutama di wilayah Tapal Kuda. Didirikan oleh K.H. Abdul Mu’id Sulaiman pada tahun 1959, pesantren ini dikenal sebagai lembaga pendidikan pertama di Indonesia yang dikelola oleh alumnus Kulliyatu-l-Mu’allimin Al-Islamiyah (KMI) dari Pondok Modern Darussalam Gontor. Dalam upaya mendirikan pesantren ini, K.H. Abdul Mu’id Sulaiman didukung oleh Kiai Mahin Ilyas dan Kiai Djawahir Abdul Muin, yang bersama-sama membangun fondasi yang kokoh bagi lembaga pendidikan yang kini sangat dihormati ini. Saat ini, pimpinan Pesantren Baitul Arqom, K.H. Izzat Fahd, menegaskan bahwa hubungan antara pesantrennya dengan Gontor bukan sekedar sebuah formalitas. Ada ikatan sanad keilmuan dan kesinambungan perjuangan yang telah terjalin kuat selama lebih dari empat generasi.
Sanad Elite yang Mengakar Kuat
Baitul Arqom menunjukkan loyalitas yang mendalam terhadap sistem pendidikan Gontor, yang tergambar dari sejarah pendidikan keluarga pendirinya yang tidak pernah terputus. Pada generasi pertama, K.H. Abdul Mu’id Sulaiman, yang merupakan alumnus KMI Gontor angkatan 1943, menjadi pelopor. Generasi kedua, K.H. Masykur Abdul Mu’id, menyelesaikan studi di KMI Gontor pada tahun 1968. Generasi selanjutnya, K.H. Izzat Fahd (lulusan KMI 2002) dan H. Ismat Syauqi (lulusan KMI 2004), terus melanjutkan tradisi ini. Kini, generasi keempat telah muncul, termasuk cucu-cucu pendiri seperti Basma Tania (alumni Mantingan 2019) dan Haekal Nawafie yang kini sedang bersiap untuk masuk Gontor sebagai calon pelajar.
Meskipun tidak semua anggota keluarga pendiri berkesempatan nyantri di Gontor secara langsung, mereka tetap diwajibkan untuk menyerap sanad keilmuan KMI melalui Pesantren Baitul Arqom. Misalnya, Iffat Maimunah dan Muhammad Imaduddin adalah beberapa contoh yang telah menempuh jalur ini. Menariknya, pesantren juga mempersiapkan Azmi Farhadi untuk mengejar pendidikan kedokteran, agar Baitul Arqom dapat memiliki dokter spesialis dari kalangan internal. “Tradisi menimba ilmu di Gontor yang dimulai sejak kakek saya lulus pada tahun 1943 terus berlanjut. Jika dihitung dari buyut hingga keponakan keluarga besar K.H. Abdul Mu’id Sulaiman, ada lebih dari 30 hingga 50 anggota keluarga kami yang telah menempuh pendidikan di Pondok Modern Darussalam Gontor,” ungkap Ustaz H. Ismat Syauqi, wakil pimpinan dan adik K.H. Izzat Fahd.
Komitmen untuk Menjaga Sanad Keilmuan
Keluarga besar K.H. Abdul Mu’id Sulaiman berkomitmen untuk menjaga sanad keilmuan ini dengan mempersiapkan generasi penerus yang akan melanjutkan tradisi pendidikan pesantren. “Kami, sebagai keturunan dari K.H. Masykur Abdul Mu’id, memang disiapkan sebagai kader untuk meneruskan sanad kepondokmodernan dengan belajar di Pondok Modern Gontor atau di Baitul Arqom,” jelasnya. Ini menunjukkan betapa pentingnya menjaga kesinambungan dalam pendidikan dan tradisi yang telah dibangun selama bertahun-tahun.
Menjawab Tantangan Sosial Melalui Pendidikan
Pondok Pesantren Baitul Arqom bukan hanya berfokus pada akademik, tetapi juga lahir sebagai respons terhadap dinamika pasca-kemerdekaan dan kebutuhan untuk membangun benteng moral di kawasan Tapal Kuda. Di era 1950-an, masyarakat yang terfragmentasi secara primordial membutuhkan pendekatan yang dapat merangkul semua golongan. “Ketika Baitul Arqom berdiri pada tahun 1959, kondisi sosial masyarakat sangat primordial. Masing-masing kelompok cenderung eksklusif. Almarhum kakek kami melihat bahwa model pendidikan Gontor adalah solusi yang tepat untuk menjembatani dan merangkul semua komunitas,” ungkap K.H. Izzat Fahd.
Dengan menerapkan model pendidikan yang inklusif, Baitul Arqom berhasil menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Santri yang datang ke pesantren berasal dari berbagai latar belakang, termasuk NU, Muhammadiyah, Persis, Al-Irsyad, dan dari seluruh pelosok Indonesia, mulai dari Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua. “Begitu mereka masuk Baitul Arqom, semuanya menyatu. Setelah lulus, mereka kembali ke komunitas masing-masing untuk mengabdi,” kata Izzat. Baitul Arqom hadir sebagai perekat umat, menjalin hubungan yang harmonis antar berbagai kelompok.
Dampak Positif Baitul Arqom di Tingkat Nasional
Dari enam dekade perjalanan Baitul Arqom, sudah ribuan alumni yang telah sukses dan menduduki posisi penting di tingkat nasional. Salah satu alumni yang paling dikenal adalah mantan Kapolri, Jenderal Pol. (Purn.) Badrodin Haiti. “Kami bersyukur karena alumni-alumni Baitul Arqom mampu berkiprah di puncak kepemimpinan nasional, seperti Bapak Badrodin Haiti di kepolisian, serta yang mengabdi di lembaga-lembaga pendidikan baik di kota maupun di desa-desa,” ujar Izzat Fahd. Harapannya, di usia pesantren yang semakin matang ini, Baitul Arqom dapat terus memberikan manfaat bagi masyarakat sesuai dengan nilai-nilai Panca Jiwa.
Inovasi untuk Masa Depan
Melihat ke depan, Pesantren Baitul Arqom berkomitmen untuk terus berinovasi tanpa meninggalkan tradisi yang telah ada. Berada di daerah agraris yang subur, pesantren ini mulai mengincar sektor ketahanan pangan dan kemandirian ekonomi umat sebagai fokus pengembangan di masa mendatang. “Karakteristik kami hidup di wilayah agraris, dan latar belakang keluarga besar kami adalah petani. Ke depan, kami ingin Baitul Arqom menjadi pesantren yang juga mampu memperkuat ketahanan pangan berbasis pertanian, melengkapi kurikulum KMI yang kami terapkan,” ungkap Al Ustadz H. Muhammad Imaduddin, Direktur Badan Pemeliharaan, Pengelolaan, dan Pengembangan Wakaf dan Amal Usaha.
Dengan komitmen untuk menjaga tradisi dan mengadopsi inovasi baru, Pesantren Baitul Arqom Jember siap untuk menjadi pusat pendidikan yang tidak hanya mencetak generasi yang berilmu, tetapi juga mampu memberikan kontribusi positif bagi masyarakat luas.
➡️ Baca Juga: Pasar Mencermati Reshuffle, IHSG Hari Ini Alami Penurunan Kembali
➡️ Baca Juga: Dolar AS Hari Ini Mencapai Nilai Rp 17.078, Apa Dampaknya bagi Ekonomi?



