PGN dan BRIN Tingkatkan Produktivitas Pesisir, Panen Biosalin Jepara Capai 176 Ton

Jakarta – Inisiatif pengembangan budidaya padi biosalin di kawasan pesisir Kabupaten Jepara, yang diusung oleh PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk/PGN, Subholding Gas Pertamina, bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta Pemerintah Daerah, telah menunjukkan hasil yang menggembirakan. Program ini berhasil melampaui target luas panen meskipun dihadapkan pada kondisi cuaca ekstrem. Dari target awal seluas 20 hektare, realisasi panen mencapai 22 hektare pada musim tanam kali ini.
Tantangan dan Solusi dalam Pertanian Pesisir
Keberhasilan ini tidak hanya menunjukkan ketahanan program dalam menghadapi tantangan iklim, tetapi juga menegaskan potensi pendekatan biosalin sebagai solusi adaptif bagi sektor pertanian di daerah pesisir, yang sering kali terpengaruh oleh intrusi air laut.
Berdasarkan hasil panen yang dicapai, produktivitas rata-rata tercatat antara 7 hingga 9 ton per hektare. Dengan total produksi mencapai sekitar 176 ton gabah, nilai ekonomi yang dihasilkan mencapai sekitar Rp1,23 miliar, dengan asumsi harga gabah sebesar Rp7.000 per kilogram.
Penerapan Teknologi dalam Pertanian
Kepala BRIN, Prof. Dr. Arif Satria, menekankan pentingnya penerapan teknologi berbasis penelitian dalam sektor pertanian. Ia menjelaskan bahwa konsep budidaya padi varietas biosalin dirancang untuk mengatasi tantangan spesifik yang dihadapi lahan pertanian di wilayah pesisir, yang mengalami peningkatan salinitas akibat intrusi air laut, banjir rob, serta perubahan iklim yang sering mengakibatkan gagal panen.
“Keunggulan varietas biosalin ini mampu menghasilkan sekitar 9 ton per hektare dan memiliki waktu tanam antara 84 hingga 107 hari. Selain itu, varietas ini juga tahan terhadap hama dan penyakit serta mampu bertahan di lahan marginal,” jelas Arif.
Strategi Mitigasi dan Pemulihan Pascabencana
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa pengembangan varietas padi biosalin tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan produksi, tetapi juga dapat dilihat sebagai langkah mitigasi dan pemulihan pascabencana.
“Kami mendorong agar model seperti ini dapat diterapkan di berbagai wilayah pesisir lainnya di Indonesia yang menghadapi tantangan serupa. Dengan demikian, inovasi berbasis riset benar-benar menjadi pendorong dalam menjaga ketahanan pangan nasional dan meningkatkan kesejahteraan petani,” ungkap Arif.
Peran Pemerintah Daerah dalam Ketahanan Pangan
Bupati Jepara, Witiarso Utomo, menganggap keberhasilan ini sebagai momen penting dalam memperkuat ketahanan pangan daerah. Ia berpendapat bahwa program budidaya padi biosalin tidak hanya berkontribusi pada produksi pertanian, tetapi juga memberikan kepercayaan diri bagi petani untuk terus berproduksi di tengah ketidakpastian iklim.
“Keberhasilan panen ini menunjukkan bahwa dengan pendekatan yang tepat, sektor pertanian tetap dapat tumbuh dan memberikan nilai ekonomi, bahkan dalam kondisi cuaca yang ekstrem,” kata Witiarso.
Kolaborasi untuk Masa Depan Pertanian
Witiarso juga mengungkapkan rasa terima kasih kepada PGN dan BRIN atas inovasi dan pendampingan yang nyata melalui program budidaya padi biosalin di Kabupaten Jepara. Di tengah tantangan cuaca ekstrem dan kondisi lahan pesisir yang sebelumnya tidak produktif, program ini telah berhasil meningkatkan hasil panen petani. Kolaborasi ini tidak hanya menjaga produktivitas pertanian, tetapi juga memberikan harapan baru bagi para petani.
“Ke depan, kami berharap inisiatif ini dapat terus diperluas dan menjadi model penguatan ketahanan pangan daerah yang berbasis riset dan kemitraan strategis,” ujar Witiarso.
Komitmen PGN dalam Pemberdayaan Sosial
Division Head Corporate Social Responsibility (CSR) PGN, Krisdyan Widagdo Adhi, menegaskan bahwa partisipasi perusahaan dalam program ini merupakan bagian dari komitmen untuk menciptakan dampak sosial yang berkelanjutan.
Ia menjelaskan bahwa melalui program CSR PGN, perusahaan tidak hanya memberikan pendampingan intensif, tetapi juga mendorong peningkatan kapasitas dan transfer pengetahuan agar petani dapat mengadopsi praktik pertanian adaptif secara mandiri pada musim tanam mendatang.
“Artinya, keberhasilan hari ini menjadi fondasi bagi petani untuk terus berproduksi tanpa tergantung pada intervensi program di masa depan,” jelas Krisdyan.
Pentingnya Inovasi dalam Pertanian Biosalin
Inovasi dalam budidaya padi biosalin di Kabupaten Jepara menjadi contoh nyata bagaimana teknologi dan penelitian dapat memberikan solusi bagi tantangan yang dihadapi oleh petani di daerah pesisir. Pendekatan ini tidak hanya membantu meningkatkan produktivitas, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan daerah.
Dengan keberhasilan ini, diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi daerah lain yang memiliki kondisi serupa. Program ini menunjukkan bahwa dengan kerja sama antara pemerintah, lembaga penelitian, dan sektor swasta, solusi yang berkelanjutan untuk pertanian dapat tercapai.
Implementasi dan Replikasi di Wilayah Lain
Langkah-langkah yang diambil dalam program ini dapat direplikasi di berbagai wilayah pesisir lainnya. Hal ini sangat penting mengingat tantangan yang dihadapi oleh sektor pertanian akibat perubahan iklim dan dampak lingkungan lainnya.
- Penerapan teknologi biosalin untuk meningkatkan ketahanan pangan.
- Pendampingan kepada petani dalam praktik pertanian adaptif.
- Kerja sama antara pemerintah dan lembaga penelitian untuk inovasi.
- Pengembangan varietas padi yang tahan terhadap kondisi ekstrem.
- Peningkatan kesadaran akan pentingnya ketahanan pangan lokal.
Dengan upaya yang berkelanjutan, diharapkan hasil panen biosalin Jepara dapat menjadi model bagi daerah-daerah lain di Indonesia yang menghadapi tantangan serupa. Melalui kolaborasi yang solid, sektor pertanian diharapkan dapat terus tumbuh dan berkontribusi pada ketahanan pangan nasional.
➡️ Baca Juga: Sinner Tunjukkan Dominasi yang Mengancam Posisi Alcaraz di Peringkat Tenis Dunia
➡️ Baca Juga: Sektor Transportasi Indonesia Menghadapi Tantangan Geopolitik Timur Tengah dengan Kewaspadaan




