Menelusuri Profil Figur di Pojok Layar Paripurna DPRD untuk Pemahaman yang Lebih Dalam

Dalam setiap Rapat Paripurna DPRD Jawa Barat, terdapat sosok yang selalu hadir dan memberikan kontribusi penting meski bukan berasal dari kalangan anggota dewan. Dia adalah Witri, seorang Juru Bahasa Isyarat yang berkomitmen untuk menjembatani informasi kepada para penyandang tunarungu. Dengan kehadirannya, Witri memastikan bahwa setiap momen penting dalam rapat tersebut dapat diakses oleh semua kalangan, tanpa terkecuali.
Witri: Juru Bahasa Isyarat yang Tak Terlihat
Witri bukanlah seorang anggota dewan, kepala dinas, atau stakeholder yang diundang secara resmi. Namun, kehadirannya di layar selama Rapat Paripurna sangat mencolok, terutama di sudut kanan bawah layar yang ditayangkan secara langsung. Sosoknya menjadi bagian tak terpisahkan dari proses demokrasi yang berlangsung di DPRD, memberikan makna yang lebih dalam bagi mereka yang memiliki keterbatasan pendengaran.
Tempat dan Peran Witri dalam Rapat Paripurna
Ketika rapat dimulai, Witri tidak mengambil tempat di kursi-kursi mewah yang tersedia untuk para wakil rakyat. Sebaliknya, ia memilih untuk duduk di lantai dua, menghadap kamera di salah satu sudut ruangan. Posisi ini memungkinkan dia untuk menerjemahkan setiap kata yang diucapkan dalam rapat ke dalam bahasa isyarat, sehingga para pemirsa yang tunarungu bisa tetap mengikuti jalannya acara.
Komitmen untuk Inklusi
Dengan kehadirannya, Witri berupaya untuk memastikan bahwa semua orang, terutama para tunarungu, dapat mengikuti dan memahami setiap pembahasan yang berlangsung di Rapat Paripurna. Ini bukan sekadar tugas bagi Witri, tetapi juga merupakan panggilan hati untuk mempromosikan inklusi dalam proses pengambilan keputusan publik.
Perjalanan Karier Witri sebagai Juru Bahasa Isyarat
Witri memulai kariernya sebagai Juru Bahasa Isyarat sejak tahun 2021. Sebelumnya, ia bekerja sebagai guru di sekolah yang melayani anak-anak dengan kebutuhan khusus. Pengalamannya dalam mengajar telah membekalinya dengan keterampilan komunikasi yang diperlukan untuk menerjemahkan berbagai istilah dan konsep ke dalam bahasa isyarat.
Pekerjaan Sampingan yang Berarti
Selain di DPRD, Witri juga aktif sebagai Juru Bahasa Isyarat dalam berbagai acara, seperti konferensi pers di Polrestabes. Pekerjaan ini memberikan dia kesempatan untuk memperluas jangkauannya dan memberikan kontribusi yang berarti di berbagai lini.
Tantangan yang Dihadapi Witri
Meski memiliki peran yang mulia, Witri juga menghadapi sejumlah tantangan dalam pekerjaannya. Salah satu tantangan terbesar adalah perkembangan istilah baru, terutama dalam bidang hukum dan pemerintahan. Sebagai seorang Juru Bahasa Isyarat, ia harus selalu memperbarui pengetahuannya tentang istilah dan diksi terbaru yang muncul dalam rapat-rapat tersebut.
Perkembangan Bahasa Isyarat
“Bahasa itu kan selalu berkembang, jadi saya harus siap menghadapi istilah-istilah baru yang muncul setiap harinya. Terutama istilah-istilah hukum yang sering kali menjadi tantangan tersendiri bagi saya,” ungkap Witri, menggarisbawahi pentingnya pembaruan pengetahuan dalam profesinya.
Kecepatan dan Kualitas Penerjemahan
Tantangan lain yang dihadapi Witri adalah kecepatan berbicara dari para pembicara di rapat. Ia harus mampu mengikuti ritme dan tempo penyampaian yang sering kali sangat cepat, sehingga penerjemahan tidak bisa dilakukan kata per kata. Witri menjelaskan, “Kami lebih fokus pada intisari dari kalimat yang disampaikan untuk memastikan bahwa pesan yang ingin disampaikan tetap tersampaikan dengan baik.”
Strategi Penerjemahan yang Efektif
Untuk menghadapi tantangan tersebut, Witri telah mengembangkan beberapa strategi yang efektif dalam menerjemahkan. Berikut adalah beberapa poin penting yang dia gunakan dalam proses penerjemahan:
- Menguasai istilah-istilah baru yang relevan di bidang hukum dan pemerintahan.
- Fokus pada intisari kalimat daripada menerjemahkan kata per kata.
- Mendengarkan dengan seksama untuk menangkap konteks pembicaraan.
- Berlatih secara rutin untuk meningkatkan kecepatan dan ketepatan penerjemahan.
- Berkomunikasi dengan pembicara untuk memastikan pemahaman yang tepat.
Keterampilan dan dedikasi Witri sebagai Juru Bahasa Isyarat tidak hanya memberikan dampak positif bagi para tunarungu, tetapi juga menunjukkan pentingnya aksesibilitas dalam pemerintahan. Melalui upayanya, Witri menginspirasi banyak orang untuk lebih peduli terhadap kesetaraan informasi dan hak-hak penyandang disabilitas.
Pentingnya Aksesibilitas bagi Penyandang Tunarungu
Aksesibilitas informasi adalah hak fundamental yang harus dipenuhi oleh setiap institusi, termasuk DPRD. Kehadiran Juru Bahasa Isyarat seperti Witri menjadi jembatan bagi penyandang tunarungu untuk berpartisipasi dalam proses demokrasi. Hal ini membantu menciptakan masyarakat yang lebih inklusif dan berkeadilan.
Mendorong Kesadaran dan Edukasi
Melalui kehadiran Witri, diharapkan akan muncul kesadaran yang lebih besar tentang pentingnya aksesibilitas bagi penyandang tunarungu. Edukasi tentang bahasa isyarat dan tantangan yang dihadapi oleh penyandang disabilitas harus terus ditingkatkan, baik di lingkungan masyarakat maupun institusi pemerintah.
Dengan demikian, Witri bukan hanya berperan sebagai penerjemah, tetapi juga sebagai advokat bagi hak-hak penyandang disabilitas. Tugasnya yang mulia mengingatkan kita semua akan pentingnya inklusi dan aksesibilitas dalam setiap aspek kehidupan, terutama dalam proses pengambilan keputusan yang menyangkut publik.
➡️ Baca Juga: Pajak Kendaraan Listrik: Pengguna Soroti Ketidakpastian Aturan dan Dampaknya
➡️ Baca Juga: Gubernur Pramono Tingkatkan Kesiapsiagaan Bencana Jakarta melalui Koordinasi Antar Sektor




