Jakarta – Dalam era digital saat ini, tantangan yang dihadapi orang tua semakin kompleks, terutama terkait dengan akses anak-anak terhadap konten di media sosial. Siskaeee, mantan aktris film dewasa, berbagi pandangannya mengenai pentingnya membatasi akses anak di bawah umur terhadap konten yang tidak sesuai. Dalam sebuah wawancara, ia mengungkapkan bahwa meskipun dirinya belum memiliki pengalaman sebagai orang tua, ia tetap berusaha untuk menjaga kontennya agar tidak diakses oleh anak-anak. Dengan pendekatan yang tepat, Siskaeee mengajak kita untuk memikirkan strategi cegah anak akses konten media sosial yang efektif.
Pentingnya Peran Orang Tua dalam Pengawasan Konten
Peran orang tua dalam mengawasi tontonan anak di media sosial sangat krusial. Siskaeee mengakui bahwa ia merasa tidak memiliki kapasitas untuk memberikan saran parenting yang mendalam, mengingat ia belum pernah menjadi orang tua. Namun, ia menekankan bahwa orang tua harus aktif dalam menentukan batasan yang tepat untuk anak-anak mereka.
“Aku merasa tidak layak memberikan pendapat tentang parenting karena aku belum pernah mengalaminya,” ujarnya. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya bagi orang tua untuk memahami dunia digital dan tantangannya. Dalam konteks ini, orang tua perlu memiliki strategi yang jelas untuk melindungi anak-anak dari konten yang tidak pantas.
Strategi Pembatasan Usia di Media Sosial
Salah satu langkah yang diambil Siskaeee adalah membatasi akses ke kontennya berdasarkan usia. Di platform Instagram, ia menetapkan bahwa hanya pengguna berusia 19 tahun ke atas yang dapat melihat profil dan kontennya. “Ketika seseorang mendaftar akun Instagram dan usianya terdeteksi di bawah 19 tahun, profil saya tidak akan muncul di FYP atau halaman eksplorasi mereka,” jelasnya.
Langkah ini merupakan salah satu usaha dari seorang creator untuk mencegah anak-anak di bawah umur mengakses konten yang dianggap tidak sesuai. Selain itu, Siskaeee juga mengungkapkan bahwa platform lain seperti YouTube telah menerapkan pembatasan usia serupa, yang menjadi langkah positif dalam menjaga keamanan anak-anak di dunia digital.
Regulasi Pemerintah dalam Melindungi Anak di Ruang Digital
Pemerintah Indonesia pun tidak tinggal diam dalam upaya melindungi anak-anak dari risiko di ruang digital. Melalui Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025, diatur mengenai tata kelola penyelenggaraan sistem elektronik yang bertujuan untuk melindungi anak-anak dari konten yang berbahaya. Regulasi ini menekankan pentingnya perlindungan anak dari berbagai risiko yang muncul di media sosial, gim daring, dan platform digital lainnya.
Salah satu ketentuan yang mulai diberlakukan sejak 28 Maret 2026 adalah penundaan akses atau penonaktifan akun bagi anak di bawah usia 16 tahun pada platform yang dianggap berisiko tinggi, seperti TikTok, Instagram, Facebook, YouTube, dan Roblox. Kebijakan ini diharapkan dapat mengurangi paparan anak-anak terhadap konten yang tidak pantas dan berbahaya.
Pentingnya Kesadaran Orang Tua dalam Penggunaan Gadget
Di samping regulasi yang ada, kesadaran orang tua juga memainkan peran penting dalam mencegah anak-anak mengakses konten yang tidak sesuai. Siskaeee menekankan bahwa orang tua perlu proaktif dalam membatasi penggunaan gadget anak-anak mereka. Baik itu dengan menerapkan batasan waktu penggunaan gadget atau menggunakan fitur pembatasan usia yang tersedia di berbagai platform.
- Menetapkan waktu tertentu untuk penggunaan gadget.
- Menggunakan aplikasi kontrol orang tua untuk memantau penggunaan media sosial.
- Memberikan pendidikan tentang keamanan online kepada anak.
- Mendorong anak untuk melakukan aktivitas di luar ruangan.
- Berkomunikasi secara terbuka mengenai konten yang aman dan tidak aman di internet.
Menjadi Contoh yang Baik bagi Anak
Dalam mendidik anak mengenai penggunaan media sosial, menjadi contoh yang baik adalah langkah yang sangat penting. Orang tua seharusnya menunjukkan perilaku positif dalam menggunakan teknologi dan media sosial. Dengan cara ini, anak-anak dapat belajar dari contoh yang mereka lihat di sekitar mereka.
Siskaeee mengingatkan bahwa sebagai orang tua, kita harus lebih aktif dalam berinteraksi dengan anak dan menjelaskan mengenai konten yang mereka lihat. Diskusi yang terbuka mengenai media sosial dapat membantu anak memahami risiko dan tanggung jawab yang datang seiring dengan penggunaan teknologi.
Membangun Hubungan yang Kuat dengan Anak
Salah satu cara untuk memastikan anak-anak tidak terpapar konten yang tidak pantas adalah dengan membangun hubungan yang kuat antara orang tua dan anak. Ketika anak merasa nyaman untuk berbicara tentang pengalaman mereka di media sosial, mereka lebih cenderung untuk melaporkan konten yang tidak pantas kepada orang tua.
Dengan menciptakan suasana komunikasi yang positif, orang tua dapat membantu anak-anak merasa lebih aman dan terlindungi saat menjelajahi dunia digital. Ini juga akan membantu anak-anak untuk lebih memahami batasan yang harus diterapkan saat menggunakan media sosial.
Peran Aktif Masyarakat dalam Perlindungan Anak
Selain tanggung jawab individu orang tua, perlindungan anak dari konten berbahaya di media sosial juga memerlukan peran aktif dari masyarakat. Keterlibatan komunitas dalam pendidikan dan advokasi perlindungan anak sangat penting. Masyarakat dapat membantu membangun kesadaran tentang pentingnya menjaga anak dari dampak negatif media sosial.
Organisasi non-pemerintah, lembaga pendidikan, dan komunitas lokal bisa berkolaborasi untuk mengadakan program pendidikan yang mengedukasi orang tua dan anak tentang keamanan online. Hal ini akan memperkuat upaya perlindungan anak di ruang digital.
Menghadapi Tantangan Digitalisasi
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, tantangan dalam melindungi anak-anak dari konten yang tidak pantas semakin meningkat. Siskaeee menekankan bahwa baik konten kreator maupun orang tua harus saling bekerja sama untuk menciptakan lingkungan yang lebih aman bagi anak-anak.
Penting untuk terus memperbarui pengetahuan dan keterampilan dalam menghadapi perkembangan teknologi dan konten digital. Dengan memahami tren yang ada, orang tua dapat lebih siap dalam melindungi anak-anak mereka dari bahaya yang mungkin muncul.
Menggunakan Teknologi untuk Melindungi Anak
Salah satu pendekatan yang dapat diambil oleh orang tua adalah memanfaatkan teknologi untuk membantu mengawasi aktivitas online anak. Banyak aplikasi dan perangkat lunak yang dirancang untuk membantu orang tua memantau dan mengontrol penggunaan gadget anak-anak mereka.
Beberapa fitur yang dapat digunakan antara lain:
- Filter konten untuk menyaring konten yang tidak pantas.
- Pengaturan batas waktu penggunaan aplikasi.
- Notifikasi ketika anak mengakses konten tertentu.
- Analisis penggunaan aplikasi untuk memantau aktivitas online.
- Fitur pelaporan untuk melaporkan konten yang tidak pantas.
Kesadaran dan Pendidikan Digital untuk Anak
Penting bagi anak-anak untuk diberikan pendidikan tentang keamanan digital. Dengan memahami cara menggunakan internet dan media sosial secara bijak, anak-anak dapat lebih terlindungi dari risiko yang mungkin mereka hadapi. Orang tua dapat berperan aktif dalam memberikan pendidikan ini dengan cara:
- Mengajarkan anak tentang privasi online dan pentingnya menjaga informasi pribadi.
- Membahas tentang bahaya dari konten yang tidak pantas dan cara menghindarinya.
- Menjelaskan tentang cyberbullying dan cara melaporkannya.
- Memberikan informasi tentang cara mengenali penipuan online.
- Mendorong anak untuk bertanya jika mereka merasa tidak nyaman dengan sesuatu yang mereka lihat di internet.
Dengan menerapkan strategi cegah anak akses konten media sosial yang efektif, orang tua dapat berperan aktif dalam melindungi anak-anak mereka dari konten yang tidak pantas. Melalui kombinasi kesadaran, pendidikan, dan penggunaan teknologi, kita dapat bersama-sama menciptakan lingkungan yang lebih aman bagi generasi mendatang.
➡️ Baca Juga: Pajak Kendaraan Listrik: Pengguna Soroti Ketidakpastian Aturan dan Dampaknya
➡️ Baca Juga: Warga Bogor Harus Waspada Terhadap Uang Palsu Rp100.000 yang Beredar, Cermati Agar Tidak Tertipu

