Jakarta – Lonjakan harga minyak dunia kembali menjadi faktor yang menekan nilai tukar rupiah, menciptakan kekhawatiran yang lebih besar mengenai biaya impor energi dan potensi inflasi. Situasi ini telah mendorong para pelaku pasar untuk meningkatkan permintaan terhadap dolar AS, yang berimbas pada pelemahan rupiah.
Tekanan Berkelanjutan pada Rupiah
Apabila harga minyak tetap tinggi, tekanan yang dialami rupiah kemungkinan akan terus berlanjut. Hal ini disebabkan oleh peningkatan kebutuhan devisa dan meningkatnya persepsi risiko dari faktor eksternal. Dalam konteks ini, stabilitas nilai tukar rupiah menjadi semakin sulit dipertahankan, terutama di tengah situasi geopolitik global yang penuh ketidakpastian.
Pada penutupan perdagangan Selasa (18/8), nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terpantau melemah sebanyak 64 poin, atau setara dengan 0,36 persen, menjadi Rp17.862 per dolar AS. Ini merupakan penurunan dari penutupan sebelumnya yang berada di level Rp17.798 per dolar AS.
Penyebab Pelemahan Rupiah
Rully Nova, seorang analis dari Bank Woori Saudara, menyatakan bahwa pelemahan rupiah ini sebagian besar dipicu oleh kenaikan harga minyak. Kekhawatiran akan berlanjutnya konflik antara AS dan Iran menjadi salah satu faktor utama yang berkontribusi terhadap situasi ini.
“Rupiah melemah hari ini, dipicu oleh lonjakan harga minyak global yang disebabkan oleh ketegangan yang terus berlanjut antara AS dan Iran,” ucap Rully di Jakarta pada Selasa (18/8).
Lonjakan Harga Minyak Global
Menurut laporan dari Kantor Berita Anadolu, harga minyak mengalami kenaikan lebih dari 2 persen setelah Presiden AS Donald Trump mengindikasikan bahwa ia tidak akan memperpanjang perjanjian kerangka kerja dengan Iran. Hal ini menambah kekhawatiran mengenai ketegangan yang ada di sekitar Selat Hormuz, yang merupakan jalur penting untuk perdagangan minyak dunia.
Harga minyak mentah Brent, yang menjadi tolok ukur internasional, naik 2,4 persen menjadi 90,60 dolar AS per barel pada pukul 18.50 GMT. Sementara harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI), yang menjadi tolok ukur untuk pasar AS, juga mengalami kenaikan sebesar 2,2 persen menjadi 84,20 dolar AS per barel.
Implikasi dari Ketegangan AS-Iran
Pernyataan Presiden Trump mengenai ketidakberlanjutan perjanjian tersebut memicu kekhawatiran akan potensi eskalasi ketegangan lebih lanjut, yang dapat mengganggu pengiriman energi melalui Selat Hormuz. Jalur ini menjadi sangat vital bagi perdagangan minyak global, dan setiap ketegangan yang terjadi di area tersebut dapat berdampak pada pasokan energi secara keseluruhan.
Trump juga sempat menyatakan bahwa menjadikan Selat Hormuz sebagai bagian dari wilayah AS adalah ide yang “bagus”, dan menegaskan bahwa AS memiliki “kendali penuh” atas jalur tersebut. Namun, Jenderal Amir Hatami, Komandan Angkatan Darat Iran, telah menanggapi pernyataan tersebut dengan menyatakan bahwa AS tidak memiliki hak untuk melintasi Selat Hormuz, Teluk Persia, atau Teluk Oman. Ia juga menekankan bahwa Selat Hormuz adalah peluang geopolitik bagi Iran dan situasi di jalur perairan ini tidak akan kembali ke keadaan semula.
Dampak pada Ekonomi Domestik
Kenaikan harga minyak yang melampaui asumsi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang ditetapkan pada 70 dolar AS per barel berpotensi memicu defisit fiskal. Rully mencatat bahwa kondisi fundamental ekonomi Indonesia saat ini belum sepenuhnya solid, sehingga dampak dari lonjakan harga minyak ini perlu diwaspadai.
Di sisi lain, pelaku pasar juga mengamati hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) yang berlangsung pada 18-19 Agustus 2026. Diperkirakan tidak akan ada kenaikan suku bunga acuan dalam rapat tersebut, tetapi bauran kebijakan lainnya akan menjadi penentu konsistensi kebijakan stabilitas yang diambil oleh BI.
Pergerakan Pasar dan Respons Kebijakan
Sikap pelaku pasar terhadap pergerakan nilai tukar rupiah saat ini sangat dipengaruhi oleh dinamika global, terutama terkait dengan harga minyak dan ketegangan geopolitik. Respons kebijakan dari Bank Indonesia menjadi sangat krusial untuk mengatasi potensi dampak negatif yang bisa timbul dari situasi ini.
- Kenaikan harga minyak dapat meningkatkan biaya impor energi.
- Pelemahan rupiah mempengaruhi inflasi domestik.
- Ketidakpastian geopolitik menambah risiko eksternal.
- Rapat Dewan Gubernur BI sangat diperhatikan oleh pelaku pasar.
- Stabilitas ekonomi bergantung pada bauran kebijakan yang tepat.
Secara keseluruhan, situasi saat ini menuntut perhatian yang lebih besar dari otoritas terkait untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan meminimalisir dampak dari fluktuasi harga minyak global. Dengan adanya tantangan yang terus berkembang, strategi yang komprehensif dan responsif diperlukan agar perekonomian tetap dapat berfungsi dengan baik.
Dalam menghadapi tantangan ini, penting bagi pemerintah dan Bank Indonesia untuk bekerja sama dalam merumuskan kebijakan yang tidak hanya fokus pada jangka pendek, tetapi juga mempertimbangkan dampak jangka panjang bagi perekonomian nasional. Kebijakan fiskal dan moneter yang seimbang akan menjadi kunci untuk menjaga stabilitas dan pertumbuhan ekonomi di tengah kondisi yang tidak menentu ini.
➡️ Baca Juga: Getaran Kuat Gempa magnitudo 5.6 di Filipina
➡️ Baca Juga: Cara Membuat Ringtone iPhone Tanpa iTunes

